Membangun Gerakan Petani ala Lenin

Oleh:
In’amul Mushoffa

 Ia (Lenin) adalah ruh pencipta yang harmonis, seorang filsuf, seorang sistematikus praktik. Baginya, yang perlu ialah cita-cita sosial semata, bukan buat kepentingan diri sendiri (Bertrand Russel).

Dengan datangnya Lenin, Bumi Manusia lebih kaya (Pramoedya Ananta Toer)

Tidaklah cukup mengatakan bahwa hidup itu sulit lalu menyerukan pemberontakan. Setiap tukang gembar-gembor dapat melakukan itu. Tetapi, itu sedikit berguna. Kelas pekerja harus memahami secara jelas mengapa mereka hidup dalam kemiskinan seperti itu dan dengan siapa mereka harus bersatu untuk berjuang membebaskan diri … (Lenin)[1]

Hari ini, 22 April 1870, sosok revolusioner awal abad 20 itu lahir. Namanya, Vladimir Ilyich Ulyanov atau populer dengan Lenin. Dibesarkan dalam keluarga kelas menengah yang cukup, Lenin di masa sekolah adalah siswa disiplin berprestasi. Barangkali, tak pernah terbesit sedikitpun di benak ibunya bahwa sang anak kelak bertransformasi menjadi sosok pemberontak. Namun, setelah kematian ayahnya karena pendarahan otak dan kakaknya yang dihukum gantung karena aktivitas politiknya melawan Tsar Aleksander III, ia mulai tertarik dengan ide-ide revolusioner.

Saat kuliah, ia mulai mempelajari banyak buku. Aktif dalam gerakan politik melawan rezim otokratik Tsar hingga dikeluarkan dari universitas dan diasingkan. Walau begitu, Lenin tak pernah surut. Badai rintangan justru menempa untuk meneguhkan cita-cita revolusionernya. Menginjak usia 24 tahun, ia sudah memimpin lingkaran buruh marxis yang bergerak di bawah tanah karena kontrol ketat rezim. Salah satu pencapaian Lenin bersama-sama kelompok politiknya yang terkenal, tentu saja, Revolusi Bolshevik Oktober 1917.

Lenin berkontribusi besar bagi pengembangan Marxisme, baik pada level teoretik dan praktik. Bagi Lenin, teori dan praktik tak bisa dipisahkan. Teori membutuhkan praktik dan, sebaliknya, praktik membutuhkan teori. “Tak mungkin ada pergerakan revolusioner tanpa teori revolusioner,” tulisnya dalam What is to be Done? (1902). Integral dengan pengalaman revolusionernya, Lenin mewariskan begitu banyak karya, yang ditujukan sebagai senjata kelas pekerja mewujudkan sosialisme.

Tulisan ini akan mengulas salah satu buku penting Lenin, Sosialisme, Petani, dan Kaum Miskin Desa yang Desember lalu diterbitkan Tanah Merah Press (2018). Buku ini sebetulnya terdiri dari dua buah karya yang terpisah. Bagian satu adalah Kepada Kaum Miskin di Desa—judul aslinya To the Rural Poor An Explanation for the Peasants of What the Social-Democrats Want, sebuah pamflet tujuh bab yang selesai ditulis Maret 1903 (terbit Mei 1903), setahun setelah Lenin menulis What is to be Done?. Saat itu, Rezim Tsar Nikolai begitu berkuasa dan tak sedikitpun membuka ruang kebebasan politik di Rusia. Bagian kedua, Sosialisme dan Kaum Tani, adalah sebuah pamflet yang ditulis pada 10 Oktober 1905. Beberapa bulan sebelum pamflet ini ditulis, Rezim Tsar membunuh sekitar seribu demonstran yang melakukan aksi damai untuk mengirim petisi kepadanya. Dari peristiwa inilah kemudian lahir Soviet (Dewan) di St. Petersburg yang dimanfaatkan menjadi organ kaum buruh dan tani memukul borjuasi.

Buku ini, sesuai judulnya, ditujukan pada kaum miskin di desa. Saat itu, terjadi perkembangan politik yang signifikan di Rusia dengan munculnya kelas buruh yang oleh Lenin diorganisikan dalam sebuah partai yang ia dirikan pada tahun 1889, yakni Partai Buruh Sosial Demokrat Rusia (PBSDR). Tak seperti kebanyakan kalangan Marxis dogmatis, Lenin berpendapat bahwa petani di pedesaan harus dilibatkan dalam perjuangan revolusi proletariat. Jumah petani pedesaan saat itu jauh lebih banyak, hampir 90% dibanding buruh manufaktur perkotaan karena kapitalisme yang masih muda di Rusia.

Petani Mana Yang Revolusioner?

Perspektif marxis ortodoks memang menyatakan bahwa dalam corak produksi kapitalis, kelas buruh adalah kelompok yang maju dan paling dapat diandalkan sebagai kelas revolusioner. Sedangkan kaum tani, meski tertindas, dianggap sebagai entitas kelas yang memiliki watak kepemilikan atas tanah sehingga pandangan mereka tak segaris dengan misi sosialisasi alat-alat produksi. Namun, bagi Lenin, kaum tani tidaklah homogen. Ada diferensiasi kelas di dalamnya. Sebagian besar diantaranya tergolong proletariat sehingga harus dijadikan subjek revolusi.

Akan tetapi, terlalu simplistis jika kaum tani dibedakan menjadi dua kelas, bahwa yang memiliki alat produksi—khususnya  tanah—sebagai petani kapitalis; dan yang tidak memiliki alat produksi adalah proletar. Sebab, relasi kepemilikan, pekerjaan, pendapatan dan penggunaan hasil produksi[2] dalam pertanian tidak setegas dan serutin dalam industri manufaktur. Dalam pertanian, keempatnya sangat bervarian. Untuk itu, Lenin lantas meriset diferensiasi kelas petani di Rusia yang dalam buku ini hasilnya dituangkan di Bab III. Menurut Lenin, terdapat empat kelas petani saat itu, yakni petani kaya, petani menengah, petani miskin (semi proletar), dan petani proletar.

Ciri utama petani kaya adalah mempekerjakan buruh tani dan buruh harian. Mereka memiliki lahan besar dan banyak kuda, menjual hasil pertaniannya untuk uang, menyimpan uangnya di bank, dan menyewa tanah besar negara atau tanah pembagian milik komune desa, juga dapat menyisihkan uangnya untuk mengakumulasi tanah.

Petani menengah memiliki taraf hidup menengah. Rata-rata memiliki dua kuda. Tapi, kemiskinan selalu mengintainya. Mereka memiliki sedikit tabungan atau tak memiliki sama sekali. Ketika panen buruk, mereka tak bisa mengandalkan hasil pertaniannya. Kadang, mereka harus bekerja borongan pada tuan tanah. Begitu hutang, ia akan sulit lepas darinya. Minoritas di antara mereka menyewa buruh tani harian, tetapi mayoritas tak mampu untuk itu. Itu sebabnya, kata Lenin: “… dia bukan ikan, bukan daging. Dia tidak dapat menjadi majikan yang sungguh-sungguh, juga tidak bisa menjadi seorang buruh.” Maka dalam soal revolusi, mereka memiliki potensi ambigu. Satu sisi, mereka dapat satu suara dengan petani kaya yang memanipulasi kesadaran mereka. Sisi lain, mereka dapat dapat terlibat dalam perjuangan kelas buruh.

Melihat situasi itu, Lenin tidak ingin terburu-buru melabeli petani menengah sebagai kontra revolusioner, tetapi mengulasnya dalam satu bab tersendiri (Bab IV), Kemana Petani Menengah Harus Pergi? Ke Pemilik-pemilik Harta dan Kaum Kaya, atau Kaum Buruh dan Kaum Tak Berpunya? Dalam bagian ini, Lenin memberi penjelasan: petani menengah selama ini menjadi korban propaganda kaum borjuis bahwa kaum Sosial Demokrat akan mengambil tanah-tanah mereka. Padahal, tanah yang hendak diambil kaum Sosial Demokrat hanyalah tanah kaum petani kaya. Mereka juga menjadi korban sistem koperasi[3] yang di dalamnya mengesampingkan antagonisme kelas, campur aduk antara petani kaya dengan petani miskin, petani proletar, dan petani menengah sehingga hanya menguntungkan petani kaya. Selain itu, kesadaran mereka dimanipulasi oleh propaganda bahwa petani skala kecil itu rajin, mulia, dan lebih produktif karena mengerjakan lahannya sendiri—ungkapan-ungkapan yang masih sering kita temui hari ini. Padahal, kenyataannya, mereka hidup dalam himpitan tuan tanah, petani kaya, dan ikatan produksi komoditas kapitalis. Mayoritas lahan di Rusia, hasil kerja dan mayoritas kuda, dan perbankan dikuasai borjuasi dan tuan tanah.

Untuk itu, menurut Lenin, menjadi tugas kaum Sosial Demokrat untuk menyadarkan mereka agar mereka ikut berjuang bersama petani proletar-semi proletar dan buruh.

Revolusi Dua Tahap

Setelah memberikan sodoran pertanyaan kepada petani menengah, Lenin menjelaskan perbaikan-perbaikan yang diperjuangkan Sosial Demokrat bagi seluruh rakyat dan kaum buruh di Bab V. Untuk semua orang, Sosial Demokrat memperjuangkan hak-hak berserikat dan kebebasan politik, diselenggarakannya pemilu, dijaminnya peredaran buku yang benar untuk dibaca, penghapusan perbudakan, penghapusan pajak tidak langsung (pajak pembelian yang biasa dibebankan kepada pembeli akhir/konsumen) dan menggantinya dengan pajak progresif, pendidikan gratis untuk anak-anak, kebebasan beragama, dsb. Sedangkan untuk kaum buruh, Lenin menyinggung program-program reformis seperti perlunya pembatasan jam kerja menjadi 8 jam, hari libur, larangan lembur, kompensasi ketika kecelakaan, perlunya pengawas dari kelas pekerja yang dibayar negara untuk memastikan lingkungan kerja dan tempat tinggal yang layak bagi buruh, adanya pengadilan industrial yang terdiri dari wakil buruh dan majikan dalam jumlah yang sama, dsb.

Di Bab VI, perbaikan yang diperjuangkan kaum Sosial Demokrat bagi seluruh rakyat dan bagi semua petani. Mengapa semua petani? Ini sebab di Rusia, semua petani, termasuk petani kaya, ditindas oleh tuan tanah, kelompok kelas yang menikmati keuntungan dari penghapusan perhambaan pasca revolusi 1861.

Tapi, perjuangan kaum petani miskin tidak hanya berhenti pada perjuangan reformis karena tidak akan membebaskan kaum tani jika struktur negara kelas tidak diubah. Untuk itu, Lenin menegaskan perlunya perlawanan dua tahap. Pertama, kaum miskin pedesaan harus berjuang meruntuhkan ikatan feodal tuan tanah terlebih dahulu. Dalam perjuangan ini, mereka harus bersama semua petani, termasuk petani kaya. Tetapi, aliansi ini tidak akan lama, sebab petani kaya memiliki kepentingan material dan watak kelas yang berbeda dengan petani miskin. Maka, segera setelah tahap pertama selesai, harus dilakukan tahap berikutnya. Dalam tahap Kedua ini, kaum miskin desa harus bertarung melawan semua borjuasi bersama seluruh kelas pekerja.[4] Tahap pertama dilakukan di desa, berupa pembebasan penuh petani serta pemberian hak-hak penuh pada mereka dan pembentukan panitia-panitia tani untuk mengembalikan tanah-tanah potongan (terbitan 1905, “dan merampas seluruh tanah dari tuan-tuan tanah”). Langkah kedua dilakukan di kota dan desa, berupa pengambilan semua tanah dari tuan tanah dan semua pabrik dari borjuasi (terbitan 1905, “dan penghapusan hak milik perseorangan atas tanah”) untuk mendirikan masyarakat sosialis.[5] Dua tahap ini sama-sama pentingnya. Tanpa tahap pertama, tak akan mungkin ada tahap yang kedua.

Kedua tahap itu integral dengan dua tahap revolusi yang dicanangkan Lenin[6]. Tahap pertama adalah revolusi demokratik melawan otokrasi yang dilakukan bersama borjuasi yang kelak berhasil pada 1905, dan tahap kedua dilakukan untuk mewujudkan revolusi sosialis melawan borjuasi yang kemudian baru terwujud pada 1917. Benar saja, kelak beberapa bulan menjelang Revolusi Oktober 1917, Lenin mempertegas kehadiran peran kaum buruh tani dalam Tesis April[7], sebuah tesis yang sangat mempengaruhi hari-hari Juli dan Revolusi Oktober.

Tesis April terdiri dari 10 poin, tetapi beberapa diantaranya yang secara eksplisit menekankan pentingnya pelibatan kaum tani dalam revolusi adalah: pertama, ketika Lenin menerangkan bahwa perang yang terjadi adalah perang kapitalis yang menipu kesadaran pejuang perang sehingga perang ini boleh dilakukan sebatas keharusan, bukan atas niat menaklukkan negara lain. Proletariat yang berkesadaran kelas boleh memberikan persetujuannya atas perang dengan syarat, yang utama, kekuasaan harus berada di tangan kaum proletariat dan lapisan-lapisan termiskin buruh tani yang bersekutu dengan proletariat. Tanpa menumbangkan kapitalis, mustahil mengakhiri perang dengan perdamaian. Kedua, ketika Lenin menjelaskan bahwa detik-detik itu adalah masa-masa dimana Rusia sedang menuju revolusi tahap kedua, yang harus menempatkan kekuasaan di tangan kaum proletar dan golongan-golongan termiskin dari kaum tani. Ketiga, ketika Lenin menjelaskan bahwa bukan republik parlementer, melainkan sebuah republik Soviet-soviet (dewan-dewan) yang terdiri atas utusan pekerja, buruh tani, dan kaum tani. Keempat, ketika Lenin menerangkan bahwa program agraria agar dialihkan kepada Soviet-soviet yang terdiri dari Utusan-utusan Buruh Tani untuk menjalankan penyitaan tanah-tanah milik skala luas untuk dilakukan kolektivisasi. Kelak, Tesis April benar-benar dilaksanakan dan berkontribusi besar dalam memenangkan buruh tani bersama kaum proletariat lainnya melalui Revolusi Oktober.

Bagaimana Mengorganisir Kaum Tani?

Lenin sebetulnya memuji pemberontakan petani melawan Tsar yang meletup setahun sebelum Kaum Miskin di Desa ditulis. Sayangnya, pemberontakan itu gagal karena, menurutnya, tidak memiliki target perubahan pada perubahan struktur negara, tidak terorganisir dengan baik, tanpa persiapan, dan kaum tani belum bersatu dengan proletar kota.

Karena itu, Lenin menekankan pentingnya memahamkan kaum miskin di desa tentang sebab musabab yang mereka alami. Ini menuntut kaum buruh di dalam Partai Sosial Demokrat memahami cara kerja kapital untuk mengorganisir mereka dan mengintegrasikan perjuangan mereka ke dalam perjuangan partai untuk mewujudkan revolusi sosialis.

Dalam aktivitas ini, Lenin menegaskan bahwa ajaran Sosial Demokrat tidak boleh diajarkan dari buku saja, tapi juga dari peristiwa sehari-hari dimana kaum tani mengalami penindasan tanpa henti. “Hanya dia yang tahu sabab-musabab penindasan dan selama hidupnya menentang setiap peristiwa penindasan yang dapat menjadi seorang Sosial Demokrat sejati”[8], tulis Lenin. Di sini, Lenin secara tidak langsung menegaskan bahwa upaya penyadaran itu memerlukan perpaduan dua hal:[9] kapasitas teoretik dan pengalaman empiris.

Lalu bagaimana memulai upaya penyadaran itu di hadapan kaum tani? Dalam soal ini, Lenin tidak ingin gegabah. Ia mendorong kaum Sosial Demokrat di setiap wilayah untuk merumuskannya karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Namun, ia sempat memberikan contoh: kaum Sosial Demokrat dapat masuk ke desa yang dikuasai tuan tanah lalu mencari petani yang sadar, cerdas, dapat dipercaya, senantiasa mencari kebenaran, dan berani untuk menerangkan sebab struktural penindasan yang mereka alami. Setelah itu, barulah ia menyebarluaskan pengetahuannya pada petani proletar, semi proletar, dan menengah untuk diorgansir. Setelah terorganisir, barulah mereka dapat merumuskan secara bersama strategi dan taktik perlawanan yang dilakukan. Sepanjang halaman 113-116 ini, narasi Lenin terlihat penuh pertimbangan. Tentu terlalu panjang jika dikutip di sini. Cukuplah kita kutip satu kalimatnya tentang pemogokan:

 Jika pemogokan itu dengan suara bulat dan dicanangkan selama musim yang sibuk, maka tuan tanah bahkan pihak yang berwajib pun dengan pasukan-pasukannya akan merasa sukar untuk berbuat sesuatu—waktu terus hilang, tuan tanah terancam kebangkrutan, dan dia akan lekas menjadi lebih suka bersetuju.[10]

Meskipun tidak sepenuhnya mewakili pengungkapannya yang penuh pertimbangan, dari narasi itu, Lenin dengan kecerdasannya sangat menekankan efektivitas suatu perlawanan. Jika belum memungkinkan perlawanan besar, lakukan perlawanan kecil. Jika sebuah perlawanan kemungkinan tidak sedikitpun menganggu penguasa, kumpulkan kekuatan terlebih dahulu. Pendeknya, setiap perlawanan—baik kecil maupun besar—harus diukur secara strategis dan taktis, apakah ia akan berhasil menghasilkan target atau tujuan yang dicanangkan. Seorang revolusioner akan menanggalkan prinsip “pokoknya melawan” ala kaum idealis dan aktivisme reaksioner, tanpa tahu jalan untuk mematerialisasi perubahan yang dicita-citakan.

Menurut Lenin, kemenangan sejati kaum tani hanya bisa dicapai dengan mengubah struktur kapitalisme menjadi sosialisme. Ini dapat dilakukan jika kaum miskin desa bergabung dengan buruh perkotaan meruntuhkan borjuasi dan berupaya memutus relasi produksi kapitalis.

Lenin mengkritik keras pendapat kalangan Narodisme (rakyatisme) yang percaya bahwa pertanian skala kecil dapat dirangkaikan dengan kapitalisme sebagaimana program agraria Polska Partia Socyalisticna (PPS), salah satu partai yang saat itu mengklaim dirinya sosialis[11]. Dengan pisau analitik sosialisme ilmiahnya, Lenin membongkar program PPS dan Esser yang, meski kelihatannya progresif seperti nasionalisasi, koperasi, dan land reform, tetapi tidak akan membebaskan kelas pekerja. Pembagian tanah seadil-adilnya sekalipun, tanpa memutus modus produksi kapitalisme, justru akan membentuk syarat-syarat perkembangan kapitalisme dan akhirnya bermuara pada ketimpangan ulang.

Relevansi: Mengapa Analisis Kelas dalam Gerakan Petani Menjadi Penting?

Dalam studi agraria, pikiran-pikiran Narodnik-liberal inilah menginspirasi kelompok agraria neo-populis. Salah satunya yang sangat populer adalah A Chayanov. Bagi Chayanov, pertanian adalah modus produksi tersendiri. Petani memiliki watak berbeda dengan kapitalis yang cenderung akumulatif, sementara petani berwatak subsisten. Jadi, industrialisasi pertanian kapitalis tidak akan melahap pertanian skala kecil. Bagi neo-populis, pertanian kecil konon lebih produktif dan lebih efisien dari pada pertanian skala besar kapitalis maupun sosialis. Sebab, petani kecil memiliki tanah dan bekerja untuk dirinya sendiri. Karena itu, neopopulis cukup puas dengan mendorong reforma agraria dalam bentuk pengembalian tanah-tanah besar kepada petani kecil atau petani tak bertanah.

Meski mewakili kalangan Marxis, Lenin tidak ingin memaksakan kehendanya untuk mengkolektivisasi tanah-tanah tuan tanah yang sudah terdisitribusi. Kepada kaum buruh PBSDR, Lenin mengatakan bahwa “hal itu bukan urusan kita”. Kaum petani di desalah yang akan menyelesaikannya. Tugas PBSDR hanya memberikan masukan-masukan kepada kelas petani proletar tentang plus minus pertanian skala kecil dengan kolektivisasi/skala besar. Kelak, pasca revolusi Bolshveik, perdebatan ini oleh Lenin benar-benar difasilitasi dalam ruang akademik secara fair. Kalangan Marxis diwakili oleh Kritsman, sementara kalangan neopopulis diwakili oleh A Chayanov. Namun, semua perdebatan ini buyar begitu Stalin mengambilalih kekuasaan pasca meninggalnya Lenin. Mereka, baik yang marxis maupun yang populis, dipenjarakan dan rata-rata meninggal di dalam penjara.

Di Indonesia, pandangan-pandangan agraria neo-pupulis dalam perkembangannya lebih dominan. Pemikiran-pemikiran Chayanov mempengaruhi pemikir-pemikir agraria Belanda di Indonesia.[12] Bahkan mempengaruhi karakter UUPA 1960, yang menurut Gunawan Wiradi, mendekati visi aliran neo-populis[13]. Padahal, pandangan Chayanov itu telah mendapatkan banyak kritik. Beberapa yang paling mengemuka adalah karena ia menafikan historisitas perkembangan pertanian. Pendapatnya soal homogenitas petani dan watak subsistensi petani juga dianggap tidak realistis. Seperti disinggung singkat oleh Muhtar Habibi[14], Chayanov pun memberikan tanggapan yang secara tidak langsung menunjukkan kelemahan pendapatnya sendiri.

Meski pikiran Chayanov itu dominan, kita sempat melihat representasi gerakan agraria berbasis kelas, seperti Barisan Tani Indonesia[15] hingga 1965. Namun, pasca genosida terhadap kekuatan kiri dan anti imperialis, hingga kini gerakan agraria dengan perspektif kelas hilang dari peredaran, apalagi ditambah larangan ajaran Marxisme-Leninisme dan ekspansi spasial kapitalisme yang menggila sejak krisis 1998.

Ada beberapa implikasi dari absennya gerakan agraria dengan perskpektif kelas ini. Pertama, ketika istilah ‘reforma agraria’ dibajak dalam empat tahun terakhir, yang secara terang-terangan ditujukan untuk memfasilitasi perluasan ruang kapital untuk reinvestasi, tidak ada perlawanan berarti dari kaum tani. Padahal, sudah banyak terjadi di berbagai wilayah bahwa reforma agraria secara antiklimaks justru menguntungkan petani kaya dan semakin membuntungkan petani miskin dan proletar.

Kedua, gerakan agraria lebih terfokus pada perlawanan spasial: melawan perluasan ekspansi kapital. Padahal, bisa jadi, aspirasi petani miskin dengan petani kaya dalam merespon ekspansi kapital itu berbeda. Namun karena tiadanya analisis kelas, semua petani dianggap memiliki kepentingan yang sama: menolak ekspansi kapital korporasi. Padahal bisa jadi, yang diuntungkan dari perlawanan ini justru petani kaya di desa. Begitu ekspansi perusahaan berhasil digagalkan, misalkan, penderitaan petani miskin dan petani proletar tidak berakhir.

Di titik inilah, perjuangan agraria yang ditopang oleh asumsi bahwa petani adalah kelompok homogen tidak membantu petani miskin dan petani proletar mengatasi eksploitasi petani kapitalis terhadap mereka. Bagi kebanyakan aktivis agraria, tentu kesimpulan ini rumit. Di satu sisi, menggagalkan ekspansi spasial kapitalisme diyakini sebagai sebentuk upaya emansipatif menyelamatkan rakyat dari perampasan ruang hidup dan mencegah kerusakan ekologis. Di sisi lain, fokus perjuangan itu dapat mengaburkan antagonisme kelas antara petani kaya dengan petani miskin dan petani proletar.

Di tengah situasi itu, barangkali, untuk sementara waktu, gerakan perlawanan spasial dan gerakan perlawanan kelas bisa dinegosiasikan. Caranya, pertama, harus dilakukan analisis kelas terhadap komposisi gerakan tani dalam perlawanan spasial yang sedang atau berpotensi terjadi. Kedua, harus dilakukan penjajakan aspirasi terhadap petani miskin dan petani proletar, termasuk pendapat mereka tentang ekspansi spasial yang sedang atau akan terjadi. Petani kaya mungkin yang paling getol dalam mempertahankan lahan mereka, sedangkan petani miskin dan petani proletar memiliki dua kemungkinan: 1) mereka menerima ekspansi itu dengan harapan dapat menyediakan lapangan kerja yang lebih baik bagi mereka; atau 2) mereka ingin memiliki lahan yang cukup untuk bertani, sementara keberhasilan perlawanan spasial tak menjamin hal itu terjadi. Jika kemungkinan pertama terjadi, maka perlu mengajak mereka merefleksikan seberapa buruk dampak ekspansi korporasi terhadap nasib mereka. Jika kemungkinan kedua yang terjadi, maka bisa dilakukan tahap ketiga, yakni menyatukan perbedaan aspirasi antara petani kaya dan petani miskin dalam perlawanan spasial. Caranya, petani kaya, yang memiliki ciri-ciri seperti penjelasan di muka, yang tergabung dalam perjuangan spasial dengan petani miskin dan proletar, perlu diikat dalam komitmen awal agar menurunkan tingkat eksploitasi, meredistribusi, atau bahkan mengkolektivisasi tanah kepada dan diantara petani tak bertanah dan petani miskin jika perjuangan melawan ekspansi korporasi kelak berhasil. Ini adalah langkah sementara, sebab penindasan petani karena relasi produksi dan pertukaran komoditas kapitalis tidak dapat diakhiri tanpa mewujudkan sosialisme.

Spirit tulisan ini adalah mengingatkan kembali bahwa dalam relasi produksi kapitalis, posisi dan peran kelas pekerja, termasuk pekerja pertanian, dalam menumbangkan rezim kapitalisme begitu sentral. Segala kebutuhan pangan, pangan, dan papan, berikut kebutuhan-kebutuhan sekunder dan tersier lainnya tak mungkin ada di tangan konsumen akhir tanpa sentuhan kelas pekerja. Kelas pekerjalah yang mampu ‘membuat dunia berhenti’ ketika aksi mogok dilakukan serentak. Karena itu, benar bahwa hanya persatuan perlawanan kelas pekerja yang dapat menumbangkan kapitalisme. Di titik inilah, membangun gerakan agraria dengan perspektif kelas menjadi mendesak. Buku Lenin ini adalah satu diantara sekian literatur penting yang perlu dikaji untuk melakukan ikhtiar  itu.

Terima kasih. Selamat ulang tahun, Lenin!***

 

Data Buku
Buku               : Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa
Penulis            : V.I. Lenin
Terbit              : Desember, 2018
Penerbit          : Tanah Merah Press
Penerjemah   : Aksara Media
Halaman         : 164

 

[1] V.I. Lenin. Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa. (Yogjakarta: Tanah Merah Press. 2018) hal 61

[2] Mengacu Henry Bernstein, ada empat pertanyaan kunci ekonomi politik: Siapa memiliki apa? Siapa mengerjakan apa? Siapa mendapatkan apa? Digunakan untuk apa hasil yang mereka dapatkan? Henry Berstein. Dinamika Kelas dalam Perubahan Agraria (Yogjakarta: Insist Press. 2016)

[3] Bagi Lenin, “koperasi”  sejati  yang  dapat  menyelamatkan  Rakyat  pekerja ialah persekutuan kaum  miskin  desa  dengan  kaum  buruh Sosial-Demokrat  di  kota-kota  untuk  melawan seluruh burjuasi. V.I. Lenin. Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa.  hal 59.

[4] V.I. Lenin. Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa.  hal 80

[5] V.I. Lenin. Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa. hal 96

[6] Cikal bakal ide ini dapat kita lihat dalam tulisan Lenin di koran Iskra, No. 16, February 1, 1902 yang berjudul Agitasi Politik dan “Sudut Pandang Kelas”. Lenin menulis, “Di dalam perjuangan politik, “sudut pandang kelas” menuntut proletariat untuk memberikan dorongan kepada setiap gerakan demokratik. Tuntutan-tuntutan politik demokrasi kelas-buruh tidak berbeda secara prinsipil dengan tuntutan-tuntutan politik demokrasi borjuis. Mereka hanya berbeda dalam tingkatannya. Di dalam perjuangan untuk emansipasi ekonomi, untuk revolusi sosialis, kaum proletariat berdiri di atas prinsip yang berbeda dan kaum proletariat berdiri sendirian (para produsen kecil akan datang membantu hanya setelah ia masuk ke barisannya atau sedang bersiap-siap masuk ke barisannya).”

[7] V.I. Lenin. Tugas-Tugas Kaum Proletariat Dalam Revolusi Sekarang Ini (Tesis April). Pravda. 17 April 1917

[8] V.I. Lenin. Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa. hal 113

[9] Dede Mulyanto memberikan penegasan merarik soal ini. Lihat: Masya Alloh, Lenin, Masih Soal Kelas?! Harian Indoprogress28 October 2015

[10] V.I. Lenin. Sosialisme, Petani dan Kaum Miskin Desa. hal 116

[11] Kelompok lain yang mengklaim dirinya sosialis adalah Partai Sosialis Revolusioner (Esser). Tapi, baik klaim sosialisme PPS dan Esser hanya sebatas jargon, khas tipikal sosialisme reaksioner borjuis kecil. Esser memang ingin menghapuskan milik perseorangan atas tanah dan mendorong koperasi. Namun, mereka tak hendak menghilangkan produksi komoditas kapitalis. Selain itu, perekonomian swasta atas tanah juga tetap.

[12] Gunawan Wiradi. Reforma Agraria: Perjalanan Yang Belum Berakhir (Yogjakarta: Insist Press, KPA dan Pustaka Pelajar, 2000). hal 32-34

[13] Gunawan Wiradi. Reforma Agraria: Perjalanan Yang Belum Berakhir. hal 97

[14] Lihat: Muhtar Habibi. ‘Petani’ dalam Lintasan Kapitalisme. Harian Indoprogress. 18 April 2018

[15] Lihat hasil riset mereka: DN. Aidit. Kaum Tani Menganyang Setan-setan Desa (1964).

 

Gambar: Lukisan karya Mikhail Emelyanovich Andreychuk https://arthive.com

1K Shares

Tinggalkan Balasan