Rilis Kronologi Intimidasi Terhadap Mahasiswi Papua di Malang

Serangkaian intimidasi dan diskriminasi terhadap Rakyat Papua terus berlangsung. Setelah aksi pembubaran paksa pada 1 Juli 2018 di Malang dan 6 Juli 2018 di Surabaya, kali ini kamar-kamar di asrama mahasiswi Papua di Malang dimasuki tanpa izin, difoto-foto, dan tanpa alasan yang jelas pada Rabu, 29 Agustus 2018 oleh enam personel tidak berseragam (intel) beserta kepala RT setempat.

Berikut kronologisnya:

Malang, 29 Agustus 2018.

Pukul 17:20 WIB: Sekitar enam orang personel intel dan RT/RW datang ke kontrakan putri Wamena tanpa ada koordinasi sebelumnya dengan BPH (Badan Pengurus Harian) Pemda Jayawijaya yang bertugas di Malang terlebih dahulu.

Pukul 17:25 WIB: Kelompok yang terdiri dari intel dan RT menerobos masuk ke dalam rumah tanpa permisi kemudian menyuruh keluar secara paksa empat orang penghuni yang berada di dalam kamar serta meminta semua pintu-pintu kamar dibuka.

Pukul 17:30 WIB: Enam orang intel masuk ke kamar-kamar dan mengambil foto kemudian 3 personel intel naik memerika lantai dua dan mengambil foto.

Pukul 17:40 WIB: Penghuni menelpon BPH dan mahasiswa Papua di Malang.

Pukul 17:50 WIB: BPH dengan beberapa mahasiswa Papua datang ke kontrakan putri untuk menanyakan tujuan kedatangan mereka.

Pukul 17:55 WIB: BPH dan mahasiswa Papua tiba di lokasi, dan enam personel intel yang berada di dalam kontrakan berhamburan keluar dari dalam dan kabur meninggalkan tempat. Yang tersisa hanya Pak RT dan dua personel intel yang mengaku sebagai staf Kelurahan Tlogomas pada saat negosiasi berlangsung.

Pukul 18:10 WIB: BHP menahan RT dan dua personel intel, kemudian meminta keterangan terkait tujuan kedatangan mereka. Mereka pun menjawab dengan tujuan pendataan penghuni dan penuh dengan alasan yang tidak logis dan tidak masuk akal.

Pukul 18:15 WIB: BHP menanyakan pada pak RT, jika tujuannya adalah pendataan, kenapa harus datang dengan pasukan (intel) yang berpakaian preman. Kemudian Pak RT tidak menjawab apa-apa, mereka datang tanpa undangan dan Pak RT tidak mengenal mereka. BPH kemudian meminta identitas KTP dua personel intel, satu personel intel mengaku tidak membawa, dan satunya menunjukan KTP sebagai warga Tlogomas.

Pukul 18:20 WIB: Pihak BPH meminta Pak RT segera mengklarifikasi dan meminta surat permohonan maaf pada penghuni kontrakan dan ke organisasi karena mereka masuk sebagai pencuri dan berbuat perbuatan yang tidak sopan lalu membubarkan diri.

 

0 Shares

Tinggalkan Balasan