Politik Tanah, Gerakan Agraria dan Intelektual-Aktivisme (2)

 

Oleh:

Prof. Satunino M. Borras Jr.
(International Institute for Social Studies)
Terj. Rassela Malinda

 

Intelektual-Aktivis Agraria

Penting untuk diketahui bahwa pendekatan intelektual-aktivisme sebagian dilakukan melalui  referensi atas gerakan dan masalah agaria dari aliansi eksternal. Organisasi produksi, pemiskinan dan pekerjaan rutin yang berat dan memosankan,  penyisipan ke dalam struktur sosial tertentu, dan institusi agraria  adalah konspirasi untuk menghambat rakyat marjinal untuk terlibat dalam perdebatan politik. Sehingga diperlukanlah sekutu eksternal untuk membantu mengatasi hambatan dan tantangan-tantangan tersebut.   Selama beberap abad lalu, sekutu paling konsisten untuk  gerakan agraria dan kaum tani adalah komunis revolusioner dan partai politik sosialis. Dan ya, zaman itu telah berakhir.

Hari ini , studi agraria kritis dan Intelektual-Aktivisme agraria dilakukan dalam topik dan terma yang berbeda.  Sebagian Intelektual- Aktivisme agraria muncul dari inisiatif gerakan sosial pasca partai politik 1980-an, dan telah direkrut ke dalam gerakan sosial dari beragam pintu masuk. Sumber-sumber penting kemunculan gelombang Intelektual- Aktivisme berasal dari gerakan pangan pada 1990an. Baru-baru ini, sepertinya terjadi gelombang baru perluasan Intelektual-Aktivisme agraria dari front keadilan iklim dan lingkungan. Dunia akademik yang ditarik ke dalam studi agraria kritis telah melampaui parameter konvensional dari studi agraria – sembari menegaskan ulang sentralitasi  ekonomi politik agraria. Tetapi semua jenis Intelektual-Aktivisme harus bersaing dengan dunia akademi dan gerakan agraria. Saya akan membahas keduanya satu persatu.

Intelektual- Aktivis dan Akademi

Aktivis yang baik cenderung sukar berbasa-basi, subversif, penuh gairah – setidaknya berdasarkan  definisi Alinky.  Sedangkan seorang akademisi yang baik biasanya teliti, penuh penghargaan dan klinis-paling tidak dalam pandangan umum.  Kualitas-kualitas  yang bertentangan tersebut yang menegaskan ulang makna Intelektual-Aktivis.  Hal inilah yang menimbulkan Ketegangan dan kontradiksi permanen dihadapi oleh mereka. Tantangan para intelekual-aktivis dalam menghadapi prasyarat kerja-kerja akademik setidaknya dapat dilihat melalui dua cara.

Pertama, adalah kekakuan akademis. Yang bermakna ; menyeluruh, teliti, tepat, hati-hati, dan meyakinkan-secara teoritis,secara metodologis, dan secara empiris. Ada penengah akademis termasuk rekan panel, komite editorial, dan dewan penelitian untuk menilai ketelitian dari aplikasi atau manuskrip hibah penelitian. Kekakuan akademis mudah bagi seorang akademisi berdedikasi  untuk ditangani. Ini menjadi rumit bagi para  Intelektual- Aktivis yang dituntut memiliki komitmen dualis. Hale berpendapat bahwa “bagaimana komitmen politik kadang-kadang memprioritaskan analisis penutup ketimbang kompleksitas lebih lanjut- membuat penelitian aktivis sulit dipertahankan dalam lingkungan akademis “.

Kekakuan politik , di sisi yang lain, adalah referensi dari gerakan agraria. Yang berarti terinformasikan secara politik dan menyeluruh , bernuansa dan tajam, relevant dan tepat waktu. Artinya harus menjadi kebalikan dari metode posmorthem dalam berfikir dan bekerja.  Beberapa gerakan politik memiliki tradisi lama yang berfungsi serupa dengan peer-review akademik. Di gerakan yang diilhami Maoist, misalnya, prinsip ‘Persatuan-Perjuangan’ dan ‘kritik/kritik diri ditujukan untuk mencapai kekakuan teoritis dan politis.  Beberapa gerakan-gerakan arbitrase atas kekakuan akademik, di antaranya adalah :  pemimpin gerakan, kader, militan dan lapisan membingungkan dari mafia-mafia gerakan, ‘penjaga pintu’ dan ‘tukang sorak’.

Kekakuan akademik dan politik itu sendiri mungkin tidak bisa duduk bersama, bahkan cenderung bertentangan – meskipun bisa saling melengkapi dan bersinergi. Tantangan tersulit bagi Intelektual-Aktivis adalah bagaimana mendudukkan keduanya secara bersamaan.

Kedua: Dampak. Ada beberapa perbedaan tradisi antara gerakan agraria dan dunia akademik dalam hal memahani dan mengukur dampak penelitian, bisa bertentangan , meskipun tidak selalu begitu. Untuk gerakan sosial sendiri, memang lebih jelas : membuat beberapa perubahan  kehidupan yang nyata, seperti menghentikan proses pembangunan bendungan, atau redistribusi lahan kepada para petani. Atau memproduksi laporan yang membingkan perdebatan akademik dan kebijakan internasional – tetapi peluang politis gerakan agraria dalam  memobilisasi – seperti laporan tentang perampasan lahan oleh Grain di 2018, atau serial laporan  program demokrasi dari TNI. Hal ini cukup berbeda dari sisi akademisi. Pengukuran dampak dalam hal akademik memuat poin-poin publikasi yang bergantung pada peringkat platform publikasinya menurut ‘Faktor Dampak’ (IF) . Pengaruh ‘pengutipan’ juga dinilai.  Ada pelacak dampak pengutipan, bernama H-Index, Yang merupakan ukuran sejauh mana publikasi anda telah dikutip oleh publikasi lain. Seringkali keduanya beroperasi dalam dimensi yang berbeda, tapi sebenarnya tidak perlu, mereka bisa saling melengkapi satu sama lain.  Hal ini dikarenakan akdemisi bisa diungguli oleh Intelektual-Aktivis non akademik, pada beberapa metrik akademik. Saya yakin  kita dapat mengingat secara cepat banyak karya klasik dari lapangan yang dihasilkan oleh keinstitusian Intelektual-Aktivisme seperti TNI dan FF.  Atau bahkan banyak intelektual publik non akademik- yang memiliki metric pengutipan lebih tinggi daripada metrik rata-rata.   Sebaliknya, ada peneliti akademik yang karya-karyanya berdampak besar dalam membentuk aksi publik.

(ii) Intelektual- Aktivis dan Gerakan Agraria

Bahwa gerakan agraria membutuhkan Intelektual- Aktivis sebagai sekutu bukanlah sebuah masalah. Masalahnya adalah justru ‘istilah’ dari hubungan keduanya. Hubungan instrumentalis satu arah menadai banyak ineteraksi antara Intelektual-Aktivis dan gerakan agraria. Ada dua varian untuk menjelaskan hal ini.

Pertama adalah kecenderungan berdasarkan pada asumsi implisit tentang gerakan agraria yang dianggap kurang tercerahkan dan memiliki tingkat pengetahuan dan kapasitas rendah untuk memahami dan mengubah situasi mereka.  Tugas para Intelektual-Aktivis adalah bagaimana melakukan penelitian terhadap gerakan-gerakan ini, untuk menginformasikan kerja politik mereka,  dan membangun kapasitas gerakan. Produksi pengetahuan tetap menjadi domain utama para Intelektual-Aktivis ini. Pendekatan ini memberikan mereka peran pelopor dalam hal produksi pengetahuan, dan banyak gerakan agraria, dalam beragam alasan, cenderung untuk mematuhinya. Versi ekstrim dari kecenderungan ini adalah problem ganda dari ‘Kepeloporan’ oleh Intelektual-Aktivis dan ‘Pengekoran’ dalam gerakan agraria.

Kedua, adalah tendensi di mana gerakan agraria menentukan agenda dan Intelektual-Aktivis hanya mengikuti. Ini didasarkan pada ide romantis bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh gerakan agraria itu selalu baik dan benar. Di satu sisi ini adalah versi distorsi dari gagasan umum Maois tentang ‘garis massa’. Berpatokan pada apa yang dikatakan oleh pemimpin gerakan terkadang membawa Intelektual-Aktivis untuk mendukung proses yang tidak layak untuk didukung, atau gagal mendukung yang layak. Perpaduan terburuk adalah ketika terjadi interaksi segitiga antara (1) pimpinan gerakan agraria yang tidak demokratis dan zalim. (2) lapisan mafia gerakan, ‘gatekeeper’ dan penggembira , beberapa di antaranya adalah kaum brojuis kecil yang naif dan penuh nafsu, sementara yang lain adalah pengusaha oportunis dan (3) Intelektual-Aktivis tidak kritis yang mengambil klaim besar oleh lapisan gerakan elit ini . Dalam konteks  ini, kadang-kadang Intelektual-Aktivis menjadi korban, baik dari piramida politik maupun skema Ponzi.

Kedua Tendensi ini bersifat sangat instrumentalis dan bermasalah. Namun ada pendekatan ke-tiga, dan sebagian besar para Intelektual-Aktivis berkumpul di sini, yakni : Pendekatan interaktif dua arah, yang saling memperkuat. Di satu sisi, pendekatan ini menghargai pentingnya Intelektual-Aktivis untuk membantu gerakan agaria dalam menyelesaikan hambatan dan rintangan untuk memperluas jangkauan perjuangan politik mereka. Di sisi yang lainnya , pendekatan ini menghargai otonomi dari gerakan agraria dalam membangun gerakan dan aksi kolektif. Titik mula yang penting untuk pemahaman seperti itu adalah kejujuran, transparansi dan pemahaman klinis tentang dari mana masing-masing berasal dan apa agendanya. Ini adalah pendekatan yang mengakui dan menghargai otonomi ke dua belah pihak. – bukan hanya otonomi  gerakan agraria. Pendekatan dua arah, yang saling menguatkan  untuk hubungan Intelektual-Aktivis dan gerakan agraria  mengarah pada internalisasi kontradiksi di antara ke duanya. Koeksistensi sinergi dan ketegangan menciptakan sebuah hubungan yang sehat- tetapi secara inheren sarat konflik

 (5) Pernyataan Penutup

Perubahan kekinian dalam politik tanah, gerakan agraria dan intelektual-aktivisme  menegaskan ulang relevansi studi agraria kritis sebagai sebuah ruang yang memperjuangkan keduanya, kekakuan akademik dan politik.

Strategi untuk menempatkan intelektual-aktivisme dalam gerakan agraria dan politik tanah , salah satunya adalah ‘berorientasi pada gerakan’. Di satu sisi, kenapa harus berorientasi pada gerakan, karena ia harus berjejaring dan berkontribusi pada gerakan agraria emansipatoris dan proyek politik, sekalipun tidak sempurna dan cacat. Di sisi lainnya, kenapa harus berorientasi pada gerakan agraria adalah karena ia bertujuan untuk menyelenggarakan proyek politis penelitian secara individual maupun kolektif  ‘di dalam’ maupun ‘melalui’  sebuah gerakan penelitian : sebuah gerakan yang memiliki karakteristik gerakan sosial, yaitu, berdasarkan atas asumsi dan visi bersama tentang dunia yang kita ketahui bersama dan dunia alternative yang kita ingin bangun bersama. Hal Ini tetap menghargai jaringan penelitian formal, tapi  mampu melampaui mereka.  Bersifat tanpa bentuk, cair, informal, terinspirasi dan menginspirasi – dan mampu menghubungankan dirinya dengan generasi muda pemikir kreatif dan radikal. Juga harus diarahkan dan spontan, mampu menavigasi medan yang sulit antara  ‘kepeloporan dan  pengekoran antara Intelektual-Aktivis dan gerakan agraria.  Harus mampu difusif, namun jelas tentang sentral imaginasi dan kreatifitas dalam sebuah cara polisentri yang teroperasionalkan. Dan tersebar pada tiga situs utama : dunia akemik, lembaga penelitian independen non-akademik, dan gerakan sosial.  Hanya dengan cara seperti itu kita mampu melampaui settingan agenda dan pencapaian individual – dan mentransformasikan penelitian Intelektual-Aktivis agraria menjadi kekuatan nyata untuk perubahan sosial.

Sebagai penutup: komitmen dualis oleh Intelektual-Aktivis ke dunia akademi dan perjuangan politik kadang-kadang harus membuat mereka menghadapi beban ganda. Tapi Frances Fox Piven mampu menangkap apa yang menurut saya paling dipikirkan dan dirasakan oleh Intelektual-Aktivis Agraria. Dia berkata :

Intelektual-Aktivis harus berhenti menganggap diri mereka sebagai martir. Kita aktivis, karena sukacita aktivisme politik memberikan- bahkan ketika kita gagal- kesempatan bekerja untuk membuat masyarakat kita lebih setara, lebih adil; memberi kita kepuasan tersendiri , yakni saat kita bisa menemukan kawan seperjuangan, dan juga karena upaya aktivis inilah yang nyata-nyata menerangi dunia sosial dan politik kita dengan cara yang tidak pernah bisa dilakukan oleh para Intelektual biasa.

 

Penerjemah : Rassela Malinda

Sebelumnya ditayangkan untuk blog pribadi : http://alarmdinihari.blogspot.com/2018/05/terjemahan-presentasi-saturnino-jun.html

0 Shares

Tinggalkan Balasan