Sapiens & Homo Deus: Dari Mana Kita Berasal & Ke Mana Kita Akan Menuju

Oleh:
Surya Putra B.

 

Yuval Noah Harari, seorang sejarawan dari Universitas Ibrani Yerusalem, menelurkan dua buah karya yang belakangan ini menghiasi rak Best Seller di toko-toko buku serta menjadi bahan perbincangan di ruang publik. Karya tersebut adalah Sapiens (2011) dan Homo Deus (2015). Buku pertama mencoba menjelaskan “Dari mana peradaban manusia berasal” sedangkan buku kedua menjelaskan “Kemana peradaban manusia akan menuju”.

Berbagai pertanyaan yang cukup sederhana namun mendasar mengenai manusia dan peradabannya diajukan oleh Harari dalam kedua buku tersebut. Adapun beberapa diantaranya: apa perbedaan penting antara Homo Sapiens dan makhluk-makhluk lainnya? apakah manusia semakin bahagia seiring berjalannya waktu? bagaimana dampak kehidupan manusia terhadap makhluk lainnya? ke mana perkembangan teknologi akan membawa kita?

Kedua buku ini hadir di tengah-tengah rutinitas hidup manusia yang dibentuk oleh kapitalisme abad 21. Rutinitas yang menghasilkan nalar instrumentalis, artifisal, dan berorientasi pasar. Di tengah masifnya pengebirian akal sehat, kedua buku tersebut berusaha memantik nalar kritis, memperluas cakrawala pengetahuan dan mengasah kepekaan kita sebagai umat manusia melalui sejarah, filsafat, sains, dan cabang-cabang ilmu lainnya.

Homo Sapiens: Sang Penguasa Baru

Sapiens (2011) secara garis besar membahas tiga peristiwa penting: Revolusi Kognitif, Revolusi Pertanian dan Revolusi Sains. Tiga peristiwa tersebut membawa perubahan yang radikal di dalam sejarah peradaban manusia baik dari segi ekonomi, sosial-politik, mental, spiritualitas, dan aspek-aspek kehidupan lainnya. Namun Homo Sapiens bukanlah satu-satunya makhluk yang merasakan dampak dari peristiwa-peristiwa tersebut. Makhluk-makhluk lain yang hidup bersama Homo Sapiens pun turut merasakan dampak besarnya.

Pada awal kelahirannya sampai dengan 70.000 tahun yang lalu Homo Sapiens merupakan makhluk yang insignifikan. Ia berperan sama besarnya dengan banyak makhluk-makhluk lain dalam kehidupan bumi. Lantas apa yang membuat Sapiens hari ini menguasai kehidupan di bumi? Apa yang menyebabkan dominasi Sapiens atas makhluk lainnya?

Banyak orang berpendapat bahwa Sapiens mencapai dominasinya karena ia memiliki kemampuan untuk bekerjasama. Namun apabila kemampuan untuk bekerjasama yang menyebabkan hal tersebut, mengapa lebah, semut, simpanse dan makhluk-makhluk lainnya yang memiliki kemampuan bekerjasama tidak mampu mendominasi kehidupan di bumi? Dijawab Harari dalam bukunya: “karena manusia mampu bekerjasama secara fleksibel dalam skala besar”.

Simpanse memang mampu bekerjasama, namun ia hanya mampu bekerjasama dalam skala kecil. Dalam kondisi alami, satu kawanan simpanse biasanya terdiri dari hanya sekitar 20-50 individu. Lebah mampu bekerjasama dalam skala besar, namun lebah tidak mampu bekerjasama secara fleksibel. Lebah tidak memiliki kemampuan untuk merubah tatanan sosialnya secara mandiri. Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang membuat Homo Sapiens mampu bekerjasama secara fleksibel dalam skala besar sedangkan hewan lain tidak? Kemampuan manusia untuk menciptakan dan mempercayai secara kolektif tatanan yang diimajinasikan (imagined order) adalah kunci untuk melakukan hal tersebut.

Revolusi kognitif memberikan kemampuan bagi Homo Sapiens untuk hidup dalam tiga realitas: realitas subjektif, realitas objektif, dan realitas intersubjektif. Hewan-hewan selain Homo-Sapiens hanya hidup didalam dua realitas. Hewan lain bisa merasakan sensasi kebahagiaan, kesedihan, dan kenikmatan dalam dirinya (realitas subjektif). Hewan lain juga bisa menggambarkan apa yang ditangkap oleh inderanya (realitas objektif). Namun hewan lain tidak mampu menciptakan apalagi mempercayai secara kolektif hal-hal yang tidak mempunyai justifikasi objektif seperti ideologi, agama, negara, bahkan uang (realitas intersubjektif). Jejaring kerjasama Sapiens selalu dilandasi oleh keyakinan kolektif akan tatanan yang diimajinasikan.

Revolusi pertanian yang terjadi sekitar 12.000 tahun yang lalu, meneguhkan dominasi Sapiens atas makhluk-makhluk lainnya. Domestifikasi hewan dan tumbuhan membuat Sapiens dapat hidup menetap, menyimpan surplus makanan dengan jumlah besar, dan hal-hal lainnya yang tidak pernah dibayangkan oleh Sapiens pemburu-pengumpul. Revolusi pertanian meletakkan landasan bagi kehidupan Sapiens hari ini.

Sebagaimana revolusi kognitif, revolusi pertanian juga membawa dampak yang tidak kalah besar terhadap kehidupan Sapiens dan makhluk-makhluk lainnya. Konsep keluarga inti, akumulasi kekayaan, kota, aksara, uang dan birokrasi merupakan hal-hal yang lahir karena adanya revolusi tersebut.

Sekitar 500 tahun yang lalu, revolusi sains hadir dalam peradaban manusia. Revolusi ini menyebabkan tumbuhnya populasi manusia dan pertumbuhan ekonomi secara signifikan dalam waktu yang amat cepat. Tahun 1500, ada sekitar 500 juta Homo Sapiens di seluruh dunia. Kini, ada 7 miliar. Nilai total barang dan jasa yang dihasilkan oleh umat manusia pada 1500 diperkirakan sebesar $250 miliar, dalam nilai dollar saat ini. Kini, nilai produksi umat manusia dalam setahun mendekati $60 triliun.

Perkawinan antara pengakuan ketidaktahuan manusia dan investasi dalam penelitian sains merupakan kunci bagi perkembangan teknologi dan ekonomi yang kita nikmati saat ini. Kedua hal itulah yang mengantarkan kita ke bulan, menjelajahi seluruh permukaan bumi, menciptakan komputer, smartphone, dan perkembangan teknologi lainnya yang tidak pernah dibayangkan oleh Sapiens abad pertengahan. Perkembangan teknologi dan ekonomi yang kita nikmati saat ini juga berhasil mengatasi tiga bencana dalam peradaban manusia: kelaparan, wabah, dan perang.

Utopia atau Distopia?

Banyak dari kita mungkin beranggapan bahwa kehidupan abad 21-lah yang paling membahagiakan bagi umat manusia. Homo Sapiens pemburu-pengumpul jelas kalah bahagia dengan Homo Sapiens yang hidup pasca revolusi pertanian. Begitupun homo sapiens pasca revolusi pertanian pasti kalah bahagia dengan Homo Sapiens yang hidup pasca revolusi sains. Namun kedua buku ini mencoba untuk membuka kemungkinan lain atas anggapan kita tentang kebahagiaan umat manusia. Harari, menjelaskan bahwa anggapan-anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Selain membawa berbagai prestasi dalam kehidupan Sapiens, ketiga revolusi tersebut juga membawa berbagai bencana. Kehidupan kita saat ini bisa jadi adalah ‘utopia’ sekaligus ‘distopia’ bagi nenek moyang kita.

Misalnya, kemampuan Homo Sapiens untuk bercocok tanam dan beternak (revolusi pertanian) pada awalnya diharapkan mampu membawa kehidupan Sapiens ke arah yang lebih baik. Namun ternyata kemampuan tersebut malah menimbulkan banyak masalah baru. Surplus makanan yang dihasilkan dari corak produksi tersebut menimbulkan ledakan populasi. Semakin banyak makanan yang tersedia membuka kemungkinan bagi Sapiens untuk memiliki lebih banyak keturunan. Pada satu titik, ketersediaan makanan menjadi lebih sedikit daripada populasi sehingga seringkali terjadi kekurangan makanan. Untuk menyiasati kekurangan makanan karena ledakan populasi dan faktor alam (curah hujan, masa panen tanaman, masa subur binatang ternak, dll), Sapiens diharuskan untuk bekerja lebih keras. Pada akhirnya, Sapiens petani dan peternak lebih banyak menggunakan waktunya untuk bekerja daripada Sapiens pemburu-pengumpul. Atau dengan kata lain, Sapiens pemburu-pengumpul lebih banyak memiliki waktu luang dibandingkan Sapiens petani dan peternak.

Selain itu, surplus makanan dan gaya hidup menetap juga melahirkan dua konsep yang menjadi fondasi bagi sistem ekonomi kapitalisme: akumulasi kekayaan dan individu. Ketersediaan jumlah makanan yang besar memungkinkan terjadinya perdagangan  serta akumulasi kekayaan. Gaya hidup menetap menyebabkan terpisahnya keluarga inti dari keseluruhan masyarakat. Satu keluarga inti yang tinggal dalam satu rumah, merasa dirinya  adalah bagian yang terpisah dari tetangga-tetangganya.

Revolusi sains yang berjalan beriringan dengan kapitalisme, juga tidak kalah berperan dalam menghadirkan berbagai bencana di muka bumi. Kapitalisme berperan penting bukan hanya dalam kebangkitan sains modern, melainkan juga kemunculan imperialisme eropa. Penjajahan ekonomi, politik, serta budaya dilakukan atas nama akumulasi kapital dan ‘modernisasi’. Kultus pasar bebas dan pertumbuhan ekonomi juga melahirkan berbagai perang, eksploitasi sumberdaya alam, bahkan perbudakan.

Kemana Sejarah Akan Bergerak?

Peradaban Homo Sapiens saat ini dibanjiri kemajuan teknologi dan penelitian saintifik yang begitu cepat. Mulai dari penemuan big data, kecerdasan artifisial, sampai perkembangan neurosains, robotika, dan rekayasa genetik mewarnai kehidupan abad 21. Apabila kita menengok sejarah, terjadinya perkembangan teknologi dan corak produksi cepat atau lambat akan mengubah berbagai aspek kehidupan Sapiens, begitupun sebaliknya. Homo Deus (2015) mengajak kita untuk membayangkan apa yang mungkin terjadi di masa depan berdasarkan apa yang terjadi saat ini. Nasib agama, struktur sosial politik, etika dan segala aspek kehidupan Sapiens dihadapan perkembangan ilmu pengetahuan & teknologi abad 21 dibahas oleh Harari dalam buku tersebut.

Menurut Harari, ada dua kemungkinan yang akan terjadi kedepannya berdasarkan perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi dan penelitian saintifik saat ini. Pertama, peran manusia dalam mengatur kehidupan di bumi akan digantikan oleh mesin pemroses data. Tugas kosmis Homo Sapiens telah berakhir, dan akan digantikan oleh data. Hal ini dimungkinkan apabila kita melihat perkembangan artificial intelligence dan big data saat ini. Kedua, tubuh biologis Sapiens akan bersatu dengan mesin. Algoritma elektronik, akhirnya bisa bersatu dengan algoritma biokimiawi. Hal ini akan meningkatkan kemampuan fisik maupun kognitif Homo Sapiens, agar kehidupan bumi tidak didominasi oleh mesin. Homo Sapiens akan berevolusi menjadi Homo Deus (Manusia Dewa) lewat bantuan teknologi.

Namun, apabila berbicara tentang perkembangan teknologi seringkali kita silau dengan kecanggihan-kecanggihan yang akan kita nikmati. Kita membayangkan hidup yang lebih mudah, lebih santai, bahkan lebih bahagia dengan bantuan teknologi baru. Kita sering lupa akan satu pertanyaan mendasar: siapa yang mempunyai akses terhadap teknologi baru tersebut?

Secepat dan semaju apapun perkembangan teknologi tidak akan benar-benar berguna apabila tidak bisa diakses oleh banyak orang. Khususnya teknologi-teknologi yang menyangkut hajat hidup orang banyak dan berperan sebagai faktor produksi. Monopoli akses terhadap teknologi-teknologi tersebut pada akhirnya hanya akan memperlebar jurang ketimpangan ekonomi, sosial maupun politik. Harari sendiri mengatakan dalam bukunya apabila teknologi masa depan hanya dapat diakses segelintir orang, yang akan terjadi adalah ketimpangan biologis. Hanya segelintir orang yang berevolusi menjadi Homo Deus, sedangkan sebagian besar tetap menjadi Homo Sapiens karena tidak mampu mengakses teknologi mutakhir masa depan. Tentu akan menjadi masalah besar apabila segelintir manusia memiliki kemampuan fisik dan kognitif yang jauh lebih baik dibanding manusia lainnya.

Terlepas apakah perkiraan-perkiraan tersebut akan terjadi atau tidak, yang jelas Harari telah mencoba untuk memperluas cakrawala kemungkinan dalam pemikiran kita. Sebagaimana yang ia katakan, kita mempelajari sejarah bukan untuk mengetahui masa depan. Tetapi untuk memperluas cakrawala, untuk memahami bahwa situasi kita saat ini bukanlah alamiah atau tak terelakkan. Bahwa kita dengan demikian memiliki lebih banyak kemungkinan di depan untuk kita bayangkan. Terlepas dari perdebatan dan kritik yang ditujukan, kedua karya Harari ini cukup provokatif untuk membuat kita merefleksikan kembali apa yang telah dicapai dan memikirkan ulang apa yang akan umat manusia lakukan kedepannya.

 

Penulis merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Alumni Sekolah Ideologi & Gerakan Sosial IV Intrans Institute

 

Data Buku
Judul           : Homo Sapiens (Riwayat Singkat Umat Manusia) dan Homo Deus (Masa Depan Umat Manusia)
Penulis        : Yuval Noah Harari
Terbit          : 2017 dan 2018
Penerbit      : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan Penerbit Alvabet

Sumber Gambar Utama: blog.skarma.com

56 Shares

Tinggalkan Balasan