Hanya dengan Bersama-sama Perempuan Proletar, Sosialisme Akan Berjaya (Bagian II)

Clara Zetkin

 

Sambungan dari bagian I

Masyarakat borjuis pada dasarnya tidak berseberangan dengan kepentingan gerakan perempuan borjuis. Buktinya, reformasi atas hukum privat dan publik yang berkenaan dengan perempuan telah diinisiasi di beberapa negara. Ada dua sebab mengapa penuntasan atas reformasi ini di Jerman kelihatannya memakan waktu yang sangat lama: Pertama, para laki-laki takut untuk bertarung di dalam kompetisi profesi bebas. Kedua, lambat dan lemahnya perkembangan demokrasi borjuis di Jerman yang tidak berhasil menuntaskan tugas sejarahnya karena ketakutan kelas borjuasi terhadap proletariat. Kelas borjuasi Jerman takut jika realisasi atas reformasi hanya akan memberikan keuntungan kepada gerakan Demokrasi Sosial. Semakin sedikit golongan demokrat borjuis yang membiarkan dirinya terhipnotis oleh ketakutan semacam itu, maka semakin banyak dari mereka yang siap untuk melakukan reformasi. Inggris merupakan contoh yang paling tepat sebagai satu-satunya negara yang masih memiliki kelas borjuasi yang betul-betul kuat. Sementara, para borjuasi Jerman bergidik ketakutan terhadap kelas proletariat dan menghindari penuntasan reformasi politik dan sosial. Ada faktor tambahan, yaitu perihal meluasnya pandangan Filistin di Jerman. Jalinan prasangka kaum Filistin menjangkau jauh ke para borjuis Jerman yang terbelakang. Tentu saja, ketakutan para demokrat borjuis ini sangatlah dangkal. Pemberiaan hak kesetaraan politik kepada perempuan tidak akan mengubah perbandingan kekuasaan (balance of power) yang sebenarnya. Perempuan proletar tetap akan menjadi proletar, dan perempuan borjuis tetap menjadi borjuis. Jangan biarkan diri kita tertipu oleh tren “Sosialis” di dalam gerakan perempuan borjuis, yang hanya akan ada selama para perempuan borjuis merasa ditindas.

Semakin sedikit demokrat borjuis yang memahami tugasnya, maka akan semakin penting bagi golongan Demokrasi-Sosial untuk mengadvokasi tuntutan kesetaraan politik bagi perempuan. Kami tidak bertekad untuk membuat diri kami menjadi lebih diuntungkan ketimbang sekarang. Kami tidak membuat tuntutan ini berdasarkan sebuah prinsip, tetapi demi kepentingan kelas proletar. Semakin banyak dampak kerugian yang ditimbulkan oleh kerja perempuan terhadap standar hidup laki-laki, maka yang semakin mendesak adalah perlunya mengikutsertakan mereka ke dalam pertarungan ekonomi. Semakin banyak pengaruh perjuangan politik terhadap kehidupan tiap-tiap individu, maka yang makin mendesak adalah partisipasi perempuan di dalam perjuangan politik. Hukum Anti-Sosialis lah yang pertama kali memberikan pemahaman soal apa itu keadilan kelas, negara kelas, dan kekuasaan kelas kepada perempuan. Kebijakan ini pula yang mengajarkan perempuan tentang perlunya memahami suatu kekuatan yang secara brutal telah mencampuri kehidupan keluarga mereka. Hukum Anti-Sosialis telah berhasil melaksanakan tugas, yang mana tidak akan pernah berhasil dilaksanakan oleh ratusan agitator perempuan. Tentu, kami sangat berterima kasih kepada “bapak Hukum Anti-Sosialis” beserta seluruh organ-organ pemerintah (dari para menteri hingga polisi lokal) yang telah berpartisipasi dalam pelaksanaan hukum tersebut serta telah membantu propaganda yang tak mereka sadari. Jadi, bagaimana mungkin kami, para Demokrat-Sosial, dituduh tidak tahu terima kasih?

Namun, hal yang lain juga perlu untuk dipertimbangkan. Yang saya maksud ialah publikasi buku berjudul “Perempuan dan Sosialisme” (Woman and Socialism) karya August Bebel. Buku ini jangan dinilai berdasarkan aspek positifnya ataupun kekurangannya. Sebaliknya, ia harus dinilai berdasarkan konteks zaman di mana buku tersebut ditulis. Ia lebih dari sekedar buku, tapi merupakan dedikasi istimewa. Buku tersebutlah yang pertama kali menunjukkan hubungan antara persoalan perempuan dan perkembangan sejarah. Untuk pertama kalinya, terdapat suatu daya tarik yang muncul dari buku ini: Kita akan dapat menaklukkan masa depan hanya jika meyakinkan para perempuan menjadi kawan seperjuangan kita. Dalam mengamini hal ini, saya tidak berbicara sebagai seorang perempuan tetapi sebagai seorang kamerad partai.

Sekarang, apa kesimpulan praktis yang mungkin dapat kita ambil untuk kerja propaganda kita di antara perempuan? Tugas Kongres Partai ini bukanlah untuk menerbitkan anjuran-anjuran praktis secara detail, tetapi untuk menyusun panduan-panduan umum bagi gerakan perempuan proletar.

Gagasan pembimbing kita haruslah: Kita tidak boleh melakukan propaganda para perempuan “spesial,” tetapi agitasi Sosialis di antara para perempuan. Kepentingan kecil dan sesaat dari dunia perempuan tidak boleh dibiarkan naik ke atas panggung. Tugas kita haruslah memasukkan wanita proletar modern dalam perjuangan kelas kita!  Kita tidak memiliki tugas “spesial” untuk kerja agitasi di antara para perempuan. Tuntutan-tuntutan reformasi untuk perempuan, yang harus dicapai dalam kerangka masyarakat hari ini, telah menjadi tuntutan di dalam program minimal partai kami.

Propaganda perempuan harus menyentuh seluruh persoalan tersebut, ini sangat penting bagi gerakan perempuan proletar secara umum. Tentu saja, tugas pokoknya ialah membangkitkan kesadaran kelas perempuan dan mempersatukan mereka ke dalam perjuangan kelas. Pembentukan serikat pekerja di kalangan pekerja perempuan menjadi sangat sulit. Selama tahun 1892 hingga 1895, jumlah pekerja perempuan yang terorganisir di pusat serikat buruh tumbuh menjadi sekitar 7.000 orang. Jika kita menambahkan para pekerja perempuan yang terorganisir di serikat-serikat buruh pada tingkat lokal dan menyadari bahwa paling tidak ada 700.000 pekerja perempuan yang secara aktif terlibat di dalam perusahaan industri besar, maka kita juga akan mulai menyadari besarnya tugas pengorganisasian yang ada di depan kita. Tugas kita dibuat menjadi lebih sulit oleh kenyataan bahwa masih banyak perempuan yang aktif bekerja di industri rumahan dan, oleh karena itu, hanya dapat diorganisir dengan tingkat kesulitan yang besar. Selain itu, kita juga harus berurusan dengan keyakinan yang dipegang secara luas di antara para perempuan muda, bahwa kerja-kerja mereka di industri hanya bersifat sementara dan akan berakhir pada saat mereka menikah nantinya. Terdapat kewajiban ganda bagi banyak perempuan, yaitu aktif di pabrik dan aktif di rumah. Yang lebih perlu bagi para pekerja perempuan ialah mendapatkan hari kerja tetap secara legal. Sebaliknya, di Inggris semua orang setuju bahwa eliminasi industri rumahan, penetapan hari kerja legal, dan pencapaian upah yang lebih tinggi merupakan prasayarat bagi pembentukan serikat pekerja perempuan – di Jerman, selain hambatan-hambatan tadi, terdapat pula penegakan hukum terhadap serikat pekerja kami dan aturan-aturan untuk berkumpul. Kebebasan penuh untuk membentuk koalisi-koalisi, yang telah dijamin secara hukum untuk pekerja perempuan oleh perundang-undangan kekaisaran, hanya menjadi sekedar ilusi di bawah aturan masing-masing negara bagian. Saya bahkan tidak mau membahas tentang cara pemerintah Saxony memperlakukan hak untuk membentuk serikat (sejauh seseorang bahkan dapat berbicara soal hak di sana). Di dua negara bagian terbesar, Bavaria dan Prussia, aturan-aturan terkait serikat diberlakukan sedemikian rupa, sehingga partisipasi perempuan pada organisasi-organisasi serikat buruh menjadi semakin tidak memungkinkan. Baru-baru ini di Prussia, distriknya “kaum liberal,” kandidat abadi sebagai menteri, Tuan Bennigsen (Herr von Bennigsen) telah mencapai segala sesuatu yang dapat dicapai oleh manusia pada interpretasi soal Hukum Pembentukan Serikat dan Berkumpul. Di Bavaria, semua perempuan tidak diikutsertakan dalam pertemuan publik. Di Majelis Bavaria, Tuan Freilitzsch (Herr von Freilitzsch) mendeklarasikan secara terbuka bahwa dalam penanganan aturan pembentukan serikat, tidak hanya teks tetapi juga tujuan dari para legislator harus diperhitungkan. Tuan Freilitzsch berada di dalam posisi yang paling menguntungkan untuk mengetahui secara tepat apa tujuan dari para legislator, yang semuanya telah meninggal, sebelum Bavaria menjadi lebih beruntung daripada yang dapat dibayangkan oleh siapa pun di dalam impian mereka, dengan menunjuk tuan Freilitzsch sebagai menteri kepolisisan (minister of police). Hal itu tidak mengejutkan bagi saya sama sekali, karena siapapun yang menerima jabatan dari Tuhan, ia juga secara bersamaan (concomitantly) menerima inteligensi. Di Era Spiritualisme, Tuan Freilitzsch dengan demikian telah mendapatkan inteligensi ofisialnya dan melalui “dimensi keempat” (the fourth dimension) dia menemukan tujuan dari para legislator yang sudah lama meninggal itu.

Situasi ini, akan tetapi, membuat menjadi tidak mungkin bagi perempuan proletar untuk mengorganisir diri mereka bersama laki-laki. Sampai saat ini, mereka harus melancarkan perlawanan terhadap kekuatan polisi dan siasat yuridis. Dilihat dari permukaan, tampaknya mereka telah kalah. Padahal dalam kenyataannya, mereka muncul sebagai pemenang. Hal ini dikarenakan semua tindakan tersebut, yang digunakan untuk menghancurkan organisasi perempuan proletar, malah hanya membantu membangkitkan kesadaran kelas perempuan. Jika kita ingin mendapatkan organisasi perempuan yang kuat, baik di dalam bidang ekonomi maupun politik, maka kita pertama-tama perlu merawat kemungkinan kebebasan gerakan perempuan melalui perjuangan melawan industri rumahan, perjuangan memendekkan waktu kerja dan, yang paling utama, melawan apa yang disebut oleh para kelas penguasa sebagai “hak untuk berorganisasi.”

Kita tidak dapat menetapkan pada kongres partai ini bentuk propaganda seperti apa yang harus dilakukan di antara perempuan. Pertama-tama, kita perlu mempelajari bagaimana sebaiknya kita melakukan pekerjaan ini di antara perempuan. Pada resolusi yang telah diserahkan kepada anda sekalian, diusulkan untuk memilih perwakilan-perwakilan dari anggota serikat (shop stewards) di antara para perempuan yang bertugas untuk mendorong serikat dan organisasi ekonomi perempuan, lalu kemudian mengkonsolidasikannya secara terencana dan secara seragam. Proposal ini tidaklah baru; ia diadopsi sesuai dengan prinsipnya pada Kongres Partai Frankfurt, dan telah ditetapkan dengan sukses di beberapa daerah. Waktu yang akan menjawab apakah proposal ini, tatkala diperkenalkan pada skala yang lebih luas, cocok untuk membawa perempuan proletar menuju ke tingkatan yang lebih besar, yaitu ke dalam gerakan proletar.

Propaganda kita tidak boleh hanya dilakukan secara lisan. Sejumlah besar massa pasif bahkan tidak datang ke pertemuan kita. Para istri serta para ibu, yang tidak terhitung jumlahnya, tidak dapat menghadiri pertemuan kita. Tentu saja, bukan menjadi tugas perempuan Sosialis untuk propaganda menjauhkan perempuan proletar dari tugasnya sebagai seorang ibu dan istri. Sebaliknya, mereka harus didorong melakukan tugas-tugas itu lebih baik dari sebelumnya demi kepentingan pembebasan proletariat. Semakin baik kondisi di dalam keluarganya, maka semakin baik pula efektivitasnya di rumah, dan akan semakin mampu dia untuk berjuang. Semakin sering dia berperan sebagai pendidik bagi anak-anaknya, semakin baik pula kemampuannya untuk memberikan pencerahan kepada anak-anaknya. Sehingga nantinya, mereka dapat melanjutkan perjuangan seperti yang kita lakukan dengan antusiasme dan kesediaan–yang sama pula–untuk rela berkorban demi pembebasan proletariat. Ketika seorang (pria) proletar berseru: “Istriku!”, di dalam benaknya sekaligus “Kamerad dari cita-citaku, kawan seperjuanganku, ibu dari anak-anakku untuk perjuangan selanjutnya.” Banyak ibu dan istri yang menjejali suami dan anak-anaknya dengan kesadaran kelas, sebanyak yang dicapai oleh para kamerad perempuan yang kami jumpai pada pertemuan.

Dengan demikian, jika gunung tidak datang kepada Mohammed, maka Mohammed yang harus mendatangi gunung itu.[5] Dalam arti, kita harus membawa Sosialisme kepada perempuan dengan kampanye propaganda tertulis yang sudah direncanakan. Untuk kampanye semacam itu, saya menyarankan distribusi pamflet-pamflet. Bukan pamflet tradisional yang berisi seluruh program Sosialis dan pengetahuan ilmiah selama abad ini yang diringkas dalam satu halaman kuarto. Tidak, bukan itu. Yang harus kita gunakan ialah pamflet-pamflet kecil yang membahas sebuah persoalan praktis dari sebuah sudut pandang, khususnya dari sudut pandang perjuangan kelas, yang merupakan tugas utama kita. Kemudian, kita tidak boleh menganggap enteng soal teknis produksi pamflet-pamflet tersebut. Seperti di dalam kebiasaan kita, kertas dan pencetakan yang jelek tidak boleh kita gunakan. Pamflet yang tak bermutu akan menjadi kusut dan kemudian dibuang oleh para perempuan proletar yang tidak memiliki rasa menghargai yang sama dengan yang dimiliki oleh para laki-laki proletar terhadap tulisan cetak. Kita harus meniru para “teetotaller” (orang yang pantang minum alkohol) Amerika dan Inggris yang menerbitkan buklet yang cukup kecil, dengan jumlah halaman sekitar 4 sampai 6 halaman. Sebab, bahkan seorang perempuan proletar pun cukup “perempuan” untuk berkata kepada dirinya sendiri: “Benda kecil ini benar-benar menawan. Aku akan mengambilnya dan menyimpannya!” Kalimat-kalimat yang penting harus dicetak besar-besar. Sehingga, perempuan proletar tidak akan menjauh ketakutan dari membaca dan perhatiannya akan terstimulasi.

Dikarenakan pengalaman pribadi, saya tidak dapat mengadvokasi rencana untuk mendirikan surat kabar khusus bagi perempuan. Pengalaman pribadi ini bukan berdasarkan posisi saya sebagai editor Gleichheit (yang tidak didesain bagi massa perempuan, tetapi lebih sebagai garda depan progresif mereka), tetapi berdasarkan pengalaman saya sebagai seorang distributor literatur di antara perempuan pekerja. Terdorong dari tindakan Frau Gnauck-Kuhne, saya mendistribusikan koran selama berminggu-minggu di beberapa pabrik tertentu. Saya menjadi yakin bahwa para perempuan di sana tidak mendapatkan pencerahan apapun dari koran-koran itu, melainkan hanya mendapatkan hal-hal yang lucu dan menghibur. Oleh sebab itu, pengorbanan besar, yang  diperlukan untuk mempublikasikan surat kabar murah, menjadi tidak sepadan.

Akan tetapi, kita juga perlu untuk membuat serangkaian brosur yang dapat mendekatkan Sosialisme kepada perempuan di dalam kapasitasnya sebagai seorang perempuan proletar, istri, dan ibu. Selain brosur kuat milik Frau Popp, tidak ada lagi brosur yang sesuai dengan kebutuhan kita. Media harian kita juga harus melakukan lebih banyak lagi dibanding dengan yang sudah dilakukan sampai hari ini. Beberapa surat kabar harian telah mencoba untuk mencerahkan perempuan dengan menambahkan suplemen-suplemen (bagian ekstra) khusus untuk perempuan. Magdeburger Volksstimme telah memberikan contoh bagi usaha-usaha ini dan Kamerad Goldstein di Zwickau secara terampil berhasil menirunya. Namun hingga saat ini, media harian malah memandang perempuan proletar sebagai pelanggan (subscriber), menyanjung ketidaktahuan mereka serta selera mereka yang buruk dan tak berbentuk, ketimbang mencoba untuk mencerahkan mereka.

Saya ulangi, saya hanya membagikan saran-saran kepada anda sekalian untuk dipertimbangkan. Propaganda di antara perempuan adalah pekerjaan yang berat dan sulit, serta membutuhkan kesetiaan dan pengorbanan yang besar. Namun, pengorbanan-pengorbanan ini akan mendapatkan ganjarannya dan perlu untuk dihadirkan. Kaum proletariat akan mampu mencapai pembebasannya hanya jika mereka berjuang bersama-sama tanpa perbedaan kebangsaan dan profesi. Dalam hal yang sama, mereka akan dapat mencapai pembebasannya hanya jika mereka berdiri bersama-sama tanpa adanya perbedaan seks. Penyatuan massa besar perempuan proletar di dalam perjuangan pembebasan kaum proletariat merupakan salah satu prasyarat bagi kemenangan paham Sosialis dan bagi konstruksi masyarakat Sosialis.

Hanya masyarakat Sosialis yang akan mampu menyelesaikan konflik yang saat ini dihasilkan dari aktivitas profesional perempuan. Ketika sistem keluarga sebagai unit ekonomi telah lenyap dan tempatnya digantikan oleh sistem keluarga sebagai unit moral, perempuan akan memiliki hak yang sama, kreativitas yang sama, orientasi tujuan yang sama, serta suami sebagai pendamping untuk melangkah maju; individualitasnya akan berkembang dan pada saat bersamaan, dia akan memenuhi tugasnya sebagai istri dan ibu pada tingkatan yang setinggi mungkin.


Marxis Jerman. Tokoh terkemuka dalam gerakan buruh internasional. Menyelenggarakan Konferensi Wanita Sosialis pada Maret 1915. Bersama Alexandre Kollontai, berjuang untuk hak pilih yang tidak dibatasi, dan melawan ‘feminis borjuis’ yang mendukung pembatasan suara berdasarkan properti atau pendapatan. Zetkin dan Rosa Luxemburg memimpin sayap kiri dan mengobarkan perjuangan sengit melawan revisionisme yang diwakili oleh Karl Kautsky 

Artikel ini diterjemahkan Ahmad Gatra Nusantara dari Pidato pada Kongres Partai Demokratik Sosial Jerman, Gotha, 16 Oktober 1896. Berlin, Only in Conjunction With the Proletarian Woman Will Socialism Be Victorious.

Catatan kaki Penerjemah

[5] Frasa ini berasal dari kisah Nabi Muhammad SAW yang diceritakan ulang oleh Francis Bacon pada 1625 (phrases.org.uk)


Gambar: https:https: https://aeon.co/ideas/the-american-housewives-who-sought-freedom-in-soviet-russia


110 Shares

Tinggalkan Balasan