Bill Gates, Penyelamat Dunia?

Maarten Vanheuverswyn

 

Artikel ini ditulis pada 21 Juli 2005, sehingga data-data atau peristiwa-peristiwa yang ditampilkan di dalamnya kemungkinan telah mengalami banyak perubahan. Meskipun demikian, pesan-pesan yang disampaikan oleh penulis, khususnya mengenai kerja kapitalisme pada teknologi digital, masih relevan untuk dibahas dan didiskusikan hari ini.

 

Baru-baru ini, Bill Gates, pendiri Microsoft, memutuskan untuk menyumbang US$ 750 juta kepada organisasi kemitraan kesehatan global GAVI (Global Allience for Vaccines and Immunisation). Di Forum Ekonomi Dunia yang digelar di Davos, Swiss, Gates bersama musisi rock ternama Bono serta Tony Blair, mengatakan bahwa, “2005 harus menjadi titik balik dari kemiskinan di Afrika.” Dengan perkataan ala juru selamat seperti ini, orang terkaya di dunia yang memiliki kekayaan bersih sebanyak US$ 46,5 miliar itu, semakin mencitrakan dirinya sebagai seorang penyelamat dunia.

Banyak tulisan yang memuat tentang kemurahan hati seorang Bill Gates beserta yayasannya. Umumnya Gates dicitrakan sebagai penderma terbesar di dunia. Times menulis:

“Donasi hari ini mendorong Bill Gates ke posisi yang lebih tinggi sebagai filantropis terbesar di dunia.”

Gates Foundation, yang bernilai US$ 30 miliar, saat ini merupakan yayasan amal terbesar, yang didirikan satu orang penderma atau perusahaan swasta, yang pernah ada, tiga kali lipat lebih besar dari sebelumnya. Ini berkat donasi dari sang pendiri sebesar US$ 3 miliar pada Juli lalu. Gates menyatakan keinginannya untuk menyumbangkan 90 persen kekayaannya, yang saat ini bernilai sekitar US$ 50 miliar.

Perkara-perkara, yang mendorongnya untuk menyumbangkan kekayaannya, – ketidaksetaraan kesehatan global, program pendidikan, perpustakaan umum, dan proyek di sekitar kota kelahirannya, Seattle – telah berubah secara dramatis berkat kontribusinya.” (31 Januari 2005)

Gates Foundation memang yayasan amal terkaya di dunia. Pendapatan tahunannya sebanding dengan pendapatan tahunan sebuah negara kecil. Karena kekayaan yang sangat besar ini, tidak diragukan lagi banyak orang telah terbantu oleh sumbangan Bill Gates dan yayasannya. Namun, naif jika menganggap Bill Gates sebagai seorang dermawan bagi orang-orang tertindas di dunia. Memang benar bahwa selama beberapa tahun Gates telah menyumbangkan sejumlah besar kekayaan pribadinya kepada orang-orang termiskin di dunia, lebih dari yang pernah dilakukan pebisnis lain. Namun, kami pikir hal ini tidaklah membuat perbedaan yang mendasar.

Pertama, kita tergoda untuk bertanya: mengapa Bill Gates merupakan orang terkaya di planet ini? Tidakkah terdapat perbedaan yang sangat besar antara pendapatan pribadi miliuner ini  dengan kemiskinan yang harus dihadapi lebih dari satu miliar orang? Mari kita mulai dengan pertanyaan pertama.

Monopoli Microsoft

Ini bukan tempat untuk membahas secara terperinci mengenai Bill Gates yang menjadi terkenal dan kaya. Bertentangan dengan mitos populer, dapat dikatakan bahwa kisah Gates bukanlah semacam kisah seorang pengemis yang menjadi kaya. Kakek Gates adalah seorang bankir kaya, James Willard Maxwell, yang mendirikan dana perwalian bernilai jutaan dolar untuk cucunya yang selalu dapat ia andalkan. Gates juga putra seorang pengacara kaya di Seattle dan karena itu, sebagai pemuda kelas menengah atas, Gates memiliki cukup dana untuk mendirikan Microsoft sejak awalnya.

Bersama Paul Allen, Bill Gates mendirikan Micro-Soft pada tahun 1975, yang kemudian  dikenal sebagai Microsoft Corporation. Setelah memasarkan sebuah bahasa pemrograman, BASIC versi Microsoft, perusahaan itu pun lepas landas. Pada awal 1976, Gates menulis “surat terbuka untuk para hobbyist (penggemar komputer pribadi)”, yang menegaskan eksisnya pasar komersial untuk perangkat lunak komputer.[1] Ini mungkin  merupakan hal yang umum belakangan ini. Namun, penting untuk dicatat bahwa perangkat lunak pada saat itu hampir-hampir tidak pernah dijual. Sebab, semua perangkat lunak dikembangkan berdasarkan perangkat lunak maupun gagasan orang lain, sehingga memiliki perangkat lunak merupakan hal yang dianggap tidak mungkin. Saat itu, perangkat lunak dikembangkan oleh para hobbyist dan disebarkan serta dibagikan pada komunitas. Namun pada akhirnya, logika kapitalis mendapatkan kemenangannya, dan komersialisasi terhadap perangkat lunak menjadi tuntas.

Terobosan bagi Microsoft datang ketika IBM memutuskan untuk memasuki pasar komputer pribadi pada akhir 1970-an. IBM membutuhkan dua hal: sistem operasi untuk menjalankannya dan bahasa pemrograman. IBM menghubungi Bill Gates perihal BASIC dan pada saat yang bersamaan menanyakan tentang sistem operasi. Mereka menandatangani kontrak penting di tahun 1980, meskipun Gates tidak memiliki sistem operasi sama sekali. Oleh karena itu Microsoft hanya melisensikan tiruan CP/M, sistem operasi yang umum saat itu.[2] Potongan perangkat lunak ini, yang tidak dibuat sendiri oleh Microsoft, secara signifikan berganti nama menjadi QDOS (Quick and Dirty Operating System).[3] Karena Bill Gates dan perusahaannya hampir tidak mengeluarkan biaya investasi (ini dilakukan oleh perusahaan lain seperti Digital Research, Seattle Computers, dan IBM) dan tidak memiliki biaya produksi (IBM mendanai produksinya), Microsoft dapat menjual produknya di bawah harga pasaran dan secara perlahan mendepak para pesaingnya. Setelahnya, satu-satunya hal yang perlu dilakukan ialah membeli seluruh hak untuk QDOS hanya dengan US$ 50 ribu dan mengganti namanya menjadi MS-DOS. Dengan begitu, mereka memiliki produk yang mereka tidak perlu berperan dalam inovasinya, namun dapat menghasilkan laba berlimpah dari produk itu. Pada akhirnya, begitulah bisnis bekerja.

Singkatnya, ini adalah cara Microsoft menghasilkan kekayaan sejak awalnya. Perusahaan ini mengakumulasikan lebih banyak kapital dan, berkat perkembangan sumber daya yang dimiliki, mereka dapat menekan pesaingnya, seperti yang dilakukan WordPerfect dan Lotus 1-2-3 di akhir 1980-an . Bill Gates bahkan mampu menyaingi raksasa lainnya, IBM. Kelak IBM akan menelan ludah atas penandatanganan kontrak dengan Bill Gates, yang mana kontrak itu dapat diartikan sebagai surat perintah eksekusi IBM, sang perusahaan monopoli industri komputer sebelumnya. Microsoft memperoleh posisi monopoli dan laba mereka yang bernilai jutaan kemudian menjadi miliaran pada tahun 90an. Pada puncak boom dot-com di tahun 1999, kekayaan Bill Gates diperkirakan mencapai US$ 90 miliar (angka Forbes). Microsoft menjadi (dan masih merupakan) salah satu perusahaan yang paling menghasilkan laba di dunia dan dapat membanjiri pasar dengan produk mereka.

Taktik Predatoris

Terlepas dari semua kampanye pemasarannya, Microsoft tidak berkembang melalui “inovasi” atau dengan menawarkan produk terbaik yang ada. Bagi perusahaan monopoli, jauh lebih murah menunggu perusahaan kecil menghasilkan produk bagus, lalu kemudian tinggal membelinya. Sebuah perusahaan bernama WebTV menghadirkan Internet ke perangkat televisi. Khawatir akan pergeseran pasar dari komputer pribadi ke TV digital, Microsoft membeli WebTV pada tahun 1997 seharga US$ 425 juta guna menyingkirkan pesaing potensial. Beberapa bulan kemudian Microsoft melihat ancaman dari layanan email gratis, khususnya Hotmail, sehingga mereka membelinya.

Hal lain dalam kasus ini adalah “perang peramban (web browser war)” yang terkenal parah antara Microsoft dan pesaingnya Netscape. Bahkan hingga saat ini, meskipun terdapat banyak masalah keamanan dengan program peramban Microsoft Internet Explorer (seperti virus, spyware, exploits), banyak orang yang salah mengasumsikan bahwa Internet Explorer adalah Internet itu sendiri, tanpa mengetahui bahwa ada banyak alternatif browser yang tersedia untuk menjelajahi World Wide Web. Namun, dominasi yang luar biasa dari Internet Explorer hanyalah fenomena yang cukup baru[4]. Pada awal tahun 90-an, perusahaan lain, Netscape, memegang sekitar 90% pangsa pasar dan secara de facto merupakan peramban umum. Microsoft melihat kesuksesan Netscape sebagai ancaman bagi sistem operasi Windows yang dominan dan di tahun 1995 meluncurkan kampanye agresif untuk membangun kontrol atas pasar peramban. Mereka melisensikan Mosaic, browser lain saat itu, sebagai dasar dari Internet Explorer versi 1.0.

Sebagai perusahaan monopoli yang memiliki banyak uang, mereka memiliki dua keuntungan besar dalam perang peramban. Salah satunya soal sumber daya: Netscape mungkin memiliki hampir 90% pangsa pasar, tetapi Netscape sebagai perusahaan yang relatif kecil tidak memiliki sokongan finansial. Keuntungan signifikan lainnya adalah bahwa Microsoft Windows memiliki posisi monopoli di pasar sistem operasi yang digunakannya untuk mendorong Internet Explorer ke posisi dominan. Triknya adalah menyertakan (bundle) Internet Explorer pada setiap salinan Windows. Oleh karena itu, meskipun perambannya lebih rendah secara teknologi, Microsoft bisa memperbesar pangsa pasarnya dengan beberapa taktik pemasaran yang culas dan sejumlah besar uang. Pada akhirnya Netscape terdepak dari pasar. Internet Explorer menjadi peramban utama  dan, meskipun dihadapkan dengan berbagai macam masalah keamanan, ia masih menjadi peramban yang paling banyak digunakan hingga hari ini dikarenakan dominasi Microsoft. Begitulah kekuatan monopoli: di momen ia menguasai pasar, ia tak lagi mampu mengembangkan produknya. Hal itu memang terjadi pada Internet Explorer, dan di tingkat yang lebih rendah pada sistem operasi Windows secara umum: jutaan dolar dan jam kerja hilang karena kebutuhan terus-menerus untuk memperbarui (update), memasang tambalan (patch), menghapus virus maupun spyware. Baru belakangan ini, sejak penerus Netscape yang bersumber kode terbuka (open source), Mozilla, mulai bersaing, Microsoft terpaksa harus mengembangkan perambannyanya lebih jauh.

Dengan kata lain Microsoft secara sistematis memompa uang ke dalam produk atau teknologi, atau di banyak kasus lain bahkan membeli para pesaingnya hanya untuk mengakumulasi kapitalnya, menghasilkan lebih banyak keuntungan, dan untuk memperkuat posisi monopolinya. Ini lebih dari soal raksasa keuangan yang sebelumnya, yang ketika gagal menciptakan perangkat lunak kompetitif yang layak, dengan mudah menggunakan sumber daya keuangannya untuk membeli perusahaan baru dan teknologi kunci untuk mempertahankan cengkeraman besinya di perindustrian. Mereka telah mengakuisisi perusahaan yang terlibat dalam animasi 3D, sarana pengembangan Internet, pengenalan ucapan (speech recognition), keamanan pembayaran Internet (Internet payment security), layanan berita bisnis, dan lain sebagainya.

Dengan melakukan itu, Microsoft memastikan bahwa perusahaan dan bahkan pemerintah—yang mungkin telah menggunakan berbagai sistem dan format perangkat lunak yang berbeda, termasuk dari pesaing Microsoft—tetap berpegang pada format tertutup milik Microsoft seperti Windows Media Audio untuk file audio dan Microsoft Word untuk teks file. Ini disebut “vendor lock-in“, yakni membuat orang bergantung pada vendor tanpa bisa berpindah ke vendor lain kecuali dengan biaya pengalihan yang signifikan. Karena format tertutup dari file-file ini tidak didokumentasikan atau tersedia untuk umum, dalam praktiknya ini berarti bahwa perangkat lunak selain Microsoft Windows Media Player atau Microsoft Word hanya dapat mencoba menebak apa yang seharusnya dilakukan, kecuali mereka membeli lisensi yang mahal untuk memutar maupun membaca file. Itu juga alasan mengapa Microsoft bangga untuk “menyumbangkan” perangkat lunaknya ke banyak sekolah, yang tidak memiliki sumber daya untuk membeli perangkat lunak mana pun, sehingga mereka menjebak generasi mendatang ke dalam monopoli perangkat lunaknya. Kami akan menguraikan masalah standar (perangkat lunak dengan kode sumber—penerj) tertutup versus terbuka di artikel mendatang tentang perangkat lunak bebas dan GNU / Linux.

Jadi, kita melihat bahwa Bill Gates dan rekan-rekan manajernya mengetahui cara berbisnis. Mereka tahu bahwa produk dengan teknologi unggul seringkali berbeda dengan produk yang memenangkan pasar. Berulang kali strategi predatorisnya cepat memasuki pasar dengan produk yang lebih rendahan untuk membangun pijakan, menciptakan standar tertutup, mengikat orang-orang ke sistem mereka dan merebut pangsa pasar. Itu adalah jalan untuk menghasilkan keuntungan besar.

Bisnis Besar dan Charity

Bill Gates telah mengakumulasikan kekayaan pribadi yang sangat besar selama bertahun-tahun. Lagi pula, begitulah kapitalisme: menghasilkan laba dalam sistem ekonomi kompetisi yang tak kenal ampun, yang menguntungkan pemain paling agresif di dalam permainannya. Dalam hal ini, apa yang dilakukan Bill Gates bukanlah hal baru. Gates hanya melanjutkan taktik bisnis para pendahulunya. Beberapa orang paling berkuasa dalam sejarah Amerika memasuki bisnis dengan cara yang persis sama kejamnya. Orang-orang seperti JP Morgan, John D. Rockefeller, Cornelius Vanderbilt, Andrew Carnegie, semuanya adalah pemonopoli. Mereka sekarang merupakan tokoh sejarah yang dihormati dan keluarganya termasuk yang terkaya di dunia. Menariknya, semua industrialis yang luar biasa kaya ini, yang kesemuanya membeli pesaing mereka, memberikan sebagian dari kekayaan mereka untuk semua jenis charity. Bukankah ada kontradiksi di sini?

Pertimbangkan kasus JD Rockefeller yang terkenal itu. Selama bertahun-tahun, Rockefeller & Company miliknya mulai menghasilkan laba yang terus meningkat. Selangkah demi selangkah, Standard Oil (nama barunya) menguasai produksi minyak di Amerika dan menghasilkan perkongsian besar pertama di Amerika. Bukan menjadi soal, apakah Rockefeller merasa bersalah karena akumulasi kapitalnya atau tidak. Faktanya, memasuki abad 20, Rockefeller merupakan orang yang paling dibenci di Amerika. Mungkin itu yang kemudian memicu perubahan citranya—Rockefeller sekarang lebih banyak ditampilkan sebagai entrepreneur filantropis, saat Rockefeller mulai memberikan jutaan uang untuk charity. Seperti Bill Gates, Rockefeller mampu menyumbangkan sejumlah besar uang. Bukanlah suatu kebetulan bahwa Rockefeller melakukan ini setelah beberapa kali dijatuhi hukuman dalam kasus antitrust.[5] Satu abad setelah Rockefeller, Bill Gates dengan mudah meraih rekor dalam kegiatan beramal dikarenakan rekor laba yang dihasilkannya selama bertahun-tahun.

Kesehatan dan Charity

Mengesampingkan berbagai motif agar dapat menyumbangkan sejumlah besar kekayaan pribadi Anda, kita pun mesti bertanya mengapa justru miliarder seperti Bill Gates yang harus memberikan vaksin penting ke Afrika sejak awalnya. Ada sesuatu yang sangat keliru di saat penyediaan vaksin dan perawatan kesehatan dasar lainnya berada di pundak para “entrepreneur” yang menjadi kaya dengan mengikuti logika kapitalis—laba yang utama, dengan segala cara yang diperlukan! Ironisnya, sementara jutaan orang di negara-negara yang disebut Dunia Ketiga meninggal akibat kelaparan dan penyakit-penyakit yang sebenarnya mudah disembuhkan, perusahaan obat yang beroperasi di daerah tersebut menghasilkan miliaran laba, namun begitu jarang berinvestasi untuk obat-obatan yang benar-benar dibutuhkan. Sama seperti Microsoft, perusahaan farmasi dijalankan atas dasar laba. Mereka sama sekali tidak tertarik mengembangkan pengobatan untuk menyembuhkan penyakit karena masyarakat miskin tidak memiliki daya beli atas obat yang diperlukan. Oleh karena itu, berbagai program penelitian raksasa farmasi utamanya ditujukan pada produk-produk yang biasanya menangani masalah-masalah “Barat” seperti kebotakan, obesitas, dan impotensi.

Seperti dalam industri perangkat lunak dan industri pada umumnya, proses konsentrasi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Satu demi satu raksasa farmasi saling menyatu satu sama lain, hanya untuk mengakumulasi lebih banyak kapital yang dipegang oleh beberapa orang. Beberapa merger telah menciptakan perusahaan besar seperti Pfizer Inc., dengan PDB tahunan yang lebih besar daripada banyak negara “Dunia Ketiga”. Alternatif generik yang lebih murah dari obat-obatan mahal terus-menerus diblokir oleh kekejian hasutan farmasi yang tidak memedulikan kesehatan orang-orang yang tidak dapat menghasilkan laba bagi mereka. Gabungkan persoalan ini dengan rezim busuk di dunia bekas kolonial yang makan dari tangan tuan imperialis mereka di Barat,[6] dan menjadi jelas bahwa sumbangan Bill Gates demi “tujuan baik” hanyalah tambal sulam pencucian dosa dari sistem yang tidak dapat memberikan perawatan kesehatan universal dan yang menjatuhkan hukuman mati terhadap jutaan orang sejak saat mereka dilahirkan.

Akumulasi Kapital

Dalam mengumpulkan kekayaannya yang besar, Bill Gates berperilaku seperti semua kapitalis lainnya. Dan meskipun Gates secara pribadi tidak bertanggung jawab atas seluruh kesengsaraan di dunia, sebagaimana George W. Bush bukanlah Setan Besar yang menyiksa seluruh dunia, Gates adalah bagian dari kelas yang menindas para pekerja dunia. Laba besarnya itu hanya dapat diperoleh dengan cara mengeksploitasi orang lain. Fakta bahwa Gates bahkan mungkin telah meringankan penderitaan dalam beberapa kasus tertentu di Afrika (pada kenyataannya hanya pereda) memelesetkan poin sebenarnya. Inti dari persoalan ini adalah bahwa tidak peduli berapa banyak uang yang dikucurkan untuk amal, permasalahan-permasalahan mendasar tidak akan pernah terselesaikan dengan berdasar pada sistem ekonomi saat ini, yakni sistem yang didasarkan pada produksi untuk menghasilkan laba bukan untuk memenuhi kebutuhan. Gates hanyalah satu elemen dalam kapitalisme global, seperti yang telah dijelaskan oleh Marx dan Engels dalam Manifesto Komunis lebih dari satu setengah abad silam. Sejak itu wajah kapitalisme jelas berubah, seperti yang dijelaskan oleh Lenin dalam Imperialisme, Tahapan Tertinggi Kapitalisme. Namun, dasar hukum fundamental yang mengatur sistem laba masih tetap berlaku dan Anda tidak dapat memisahkan milyaran laba yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan dengan kondisi mengerikan yang harus dialami mayoritas orang di planet ini. Kedua hal yang berlawanan ini berjalinan secara tidak terbantahkan: akumulasi kekayaan yang tak terlihat, diiringi dengan kemiskinan yang mengerikan pada milyaran orang.

Pada awal abad ke-21, lebih daripada yang sebelumnya, kita hidup di era kapitalisme monopoli. Apa yang disebut sebagai perdagangan bebas tidak pernah benar-benar ada dalam seratus tahun terakhir. Terlepas dari semua pembicaraan tentang perdagangan bebas dan liberalisasi, selalu ada pertarungan sengit demi pasar antara semua negara kapitalis utama di panggung politik dunia (proses yang disebut imperialisme), dan ini juga berlaku untuk perusahaan dan pesaing mereka. Marx dan Engels menjelaskan dalam Capital bahwa di bawah kapitalisme, persaingan bebas selalu menimbulkan konsentrasi produksi, yang pada gilirannya pada tahap perkembangan tertentu mengarah pada monopoli. Bertentangan dengan bentuk-bentuk awalnya, kapitalisme dalam seratus tahun terakhir selalu memiliki kecenderungan untuk melumpuhkan persaingan bebas. Inilah yang dikatakan Lenin tentang masalah ini:

“Sekarang monopoli telah menjadi kenyataan. Para ekonom menulis tumpukan buku yang menggambarkan beragam manifestasi monopoli dan terus menyatakan secara serentak bahwa “Marxisme telah terbantahkan”. Tetapi, fakta-fakta itu keras kepala, sebagaimaa dikatakan peribahasa Inggris, dan itu patut diperhitungkan. Suka atau tidak suka. Fakta menunjukkan bahwa perbedaan-perbedaan antar negara kapitalis, misalnya dalam hal proteksi atau perdagangan bebas, hanya menimbulkan variasi yang tidak signifikan pada bentuk monopoli maupun pada saat kemunculannya; dan bahwa kebangkitan monopoli, sebagai hasil dari konsentrasi produksi, adalah hukum umum dan mendasar dari tahap perkembangan kapitalisme saat ini.” (Lenin, Imperialisme: Tahapan Tertinggi Kapitalisme)

Orang bisa saja keberatan dengan berbagai alasan bahwa Microsoft bukanlah monopoli yang sesungguhnya karena contohnya, bagian depan sistem operasi mereka memang memiliki beberapa pesaing semisal dari Apple Macintosh. Itu memang benar. Tetapi, pemonopoli memang hampir tidak pernah memiliki posisi monopoli absolut. Diperkirakan, Apple dan berbagai sistem operasi Linux yang digabungkan masing-masing memiliki sekitar 3 persen pangsa pasar. Angka itu masih menyisakan lebih dari 90 persen pasar di tangan Microsoft. Yang diperhitungkan adalah dominasi dan perilaku umum di pasar. Microsoft menggunakan pangsa pasarnya secara agresif untuk memasuki pasar baru, seperti teknologi Internet dan video game. Microsoft mengintegrasikan browser webnya ke dalam sistem operasi dan telah menandatangani kesepakatan dengan pemanufaktur perangkat keras untuk menyertakan (bundle) produknya. Sekali lagi, tidak ada hal baru yang mendasar di sini. Seperti yang dikatakan Lenin:

“Misalnya, di Amerika, seorang Owens menciptakan mesin yang merevolusi pembuatan botol. Kartel pemanufaktur botol Jerman membeli paten Owens, tetapi mengesampingkannya, menahan diri agar tidak menggunakannya. Memang monopoli di bawah kapitalisme tidak akan pernah bisa sepenuhnya, dan untuk jangka waktu yang sangat lama, menghilangkan persaingan di pasar dunia (dan ini, oleh karenanya, adalah salah satu alasan mengapa teori ultra-imperialisme begitu absurd). Tentu saja, peluang untuk mengurangi biaya produksi dan meningkatkan laba dengan memperkenalkan pengembangan teknis, beroperasi ke arah perubahan. Tetapi kecenderungan stagnasi dan pembusukan, yang merupakan ciri khas monopoli, terus berlanjut, dan di cabang industri tertentu, (atau) di negara tertentu, untuk periode waktu tertentu, ia berada di atas angin.” (Ibid.)

Masa Depan Teknologi Komputer

Beberapa orang memandang solusi untuk monopoli Microsoft ialah dengan memecahnya menjadi perusahaan yang lebih kecil, dengan ide untuk mengendalikan monopoli melalui pesaing-pesaing lainnya. Tentu saja, ini juga yang diinginkan oleh para pesaing saat ini, yakni mereka sebagai perusahaan yang mencari laba. Perusahaan seperti Apple akan melakukan hal yang sama, jika tidak lebih kejam, jika mereka berada dalam posisi yang sama kuatnya. Selain itu, dalam konteks sistem ekonomi global yang saling terkait, ide seperti memisahkan perusahaan untuk mempertahankan ceruk pasar bagi pesaing Microsoft, pada dasarnya merupakan upaya untuk memutar balik waktu—tindakan reaksioner. Sebagai catatan tambahan, John D. Rockefeller menjadi lebih kaya setelah pemerintah menghancurkan perusahaan Standard Oil-nya pada tahun 1911.[7]

Lebih penting lagi, merupakan sebuah fakta bahwa meskipun Microsoft mendominasi beberapa pasar yang dimasukinya, dominasi mereka mengarah pada standardisasi de facto. Standardisasi itu sendiri merupakan hal yang sangat positif. Saat membeli komputer baru, adalah masuk akal untuk mendapatkan semua perangkat lunak yang diperlukan tanpa biaya tambahan. Dalam hal ini, menyertakan (bundle) perangkat lunak ke dalam sistem operasi merupakan perkembangan yang positif. Masalahnya, Microsoft adalah perusahaan swasta yang memutuskan perangkat lunak mana yang akan disertakannya (bundle), yaitu milik mereka sendiri. Seperti yang telah kita lihat, perangkat lunak ini biasanya memiliki kualitas yang lebih rendah dibandingkan dengan perangkat lunak lain yang dibuat oleh perusahaan lain atau yang dibuat Yayasan Perangkat Lunak Bebas (FSF), sehingga menciptakan vendor lock-in yang dikenal buruk: orang menjadi tergantung pada produk satu perusahaan tertentu.

Oleh sebab itu, kendali atas teknologi penting yang menjadi tumpuan jutaan orang dan sebagian besar ekonomi dunia, kini berada di tangan segelintir orang. Keputusan kritis, yang mempengaruhi produk yang esensial bagi pekerjaan kantor, sekolah, maupun rumah sakit, dibuat oleh individu-individu swasta yang tidak memiliki akuntabilitas sama sekali. Tidak perlu imajinasi untuk membayangkan apa yang bisa dilakukan dengan jumlah dividen yang luar biasa besar yang dibayarkan kepada pemegang saham Microsoft.

Keadaan saat ini di dunia teknologi seharusnya menjelaskan bahwa tidak ada gunanya menentang Microsoft secara abstrak.[8] Yang dibutuhkan adalah oposisi yang melangkah lebih jauh dari sekadar menggores permukaan masalah. Microsoft, pada dasarnya, juga telah membuat beberapa perangkat lunak yang berguna selama bertahun-tahun (meskipun biasanya hasil dari membeli perangkat lunak yang ada) dan memiliki beberapa programmer yang sangat andal. Semua sumber daya ini, akan tetapi, tidak digunakan untuk kepentingan umum. Orang-orang sebenarnya membeli lisensi mahal dari perangkat lunak mereka. Sehingga, dapat dikatakan mereka tidak benar-benar memiliki perangkat lunak itu. Untuk menghilangkan hambatan yang ada pada perkembangan teknologi, kode sumber perangkat lunak Microsoft dan perusahaan swasta lainnya harus tersedia secara publik sehingga semua perangkat lunak dapat didistribusikan secara bebas untuk kepentingan seluruh umat manusia. Mengapa slogan “nasionalisasi di bawah kendali pekerja” tidak berlaku untuk Microsoft dan semua perusahaan perangkat lunak besar lainnya?

Yang dibutuhkan adalah transfer semua teknologi komputer yang tersedia ke dalam bentuk kepemilikan sosial, terkaitkan dengan pemerintahan sosialis dunia yang demokratis yang pada akhirnya akan menggunakan semua sumber daya dan teknologi yang tersedia untuk digunakan publik. Hal itu, pada gilirannya, membutuhkan transformasi sosialis yang akan menghapus sistem laba dan membangun sistem ekonomi sedunia yang dikendalikan secara demokratis di mana produksi didasarkan pada kebutuhan umat manusia.***

 

Catatan Penerjemah

[1] Open Letter to Hobbyists adalah sebuah surat terbuka yang berisi keprihatinan Gates atas pelanggaran hak cipta perangkat lunak yang terjadi di kalangan hobbyist, terutama terhadap perangkat lunak perusahaannya. Dalam surat tersebut, Gates menyatakan rasa frustrasinya terhadap sebagian besar penggemar komputer yang memakai perangkat lunak Altair BASIC milik perusahaannya tanpa membelinya. Ia menekankan bahwa penyalinan tak berizin yang meluas seperti itu akan membuat para pengembang (perangkat lunaknya) enggan menginvestasikan waktu dan uang mereka demi menciptakan perangkat lunak berkualitas tinggi. Ia menyebut ketidakadilan dalam memanfaatkan keuntungan dari waktu, usaha, dan modal pengembang perangkat lunak tanpa membayar mereka. (https://id.wikipedia.org/wiki/Open_Letter_to_Hobbyists)

[2] Control Program/Monitor atau Control Program for Microcomputer adalah sistem operasi pasar massal yang dikembangkan Gary Kildall dari Digital Research, Inc. pada tahun 1974 untuk mikrokomputer berbasis mikroprosesor Intel 8080/85. (https://id.wikipedia.org/wiki/CP/M)

[3] 86-DOS is a discontinued operating system developed and marketed by Seattle Computer Products (SCP) for its Intel 8086-based computer kit. Initially known as QDOS (Quick and Dirty Operating System), the name was changed to 86-DOS once SCP started licensing the operating system in 1980. 86-DOS had a command structure and application programming interface that imitated that of Digital Research’s CP/M operating system, which made it easy to port programs from the latter. The system was licensed and then purchased by Microsoft and developed further as MS-DOS and PC DOS. Selengkapnya: Beley, J. (1986). MS-DOS technical reference encyclopedia: (versions 1.0-3.2). Redmond – Wash: Microsoft Press.

Microsoft purchased a non-exclusive license for 86-DOS from Seattle Computer Products in December 1980 for US$25,000. In July 1981, a month before the PC’s release, Microsoft purchased all rights to 86-DOS from SCP for US$50,000. Selengkapnya: (http://antitrust.slated.org/www.iowaconsumercase.org/011607/0000/PX00001.pdf) (https://web.archive.org/web/20190906120449/http:/www.patersontech.com/dos/softalk.aspx) (https://web.archive.org/web/20200219011420/http:/antitrust.slated.org/www.iowaconsumercase.org/011607/0000/PX00002.pdf) Duncan, R., & Microsoft Press. (1988). The MS-DOS encyclopedia. Redmond, Wash: Microsoft Press; (https://en.wikipedia.org/wiki/86-DOS)

[4] Saat ini, sudah lebih banyak peramban yang jauh lebih bersaing daripada dan memudarkan dominasi penggunaan Internet Eksplorer

[5] Kasus-kasus yang berhubungan dengan pencegahan perundangan (legislation prevention) atau kontrol persekutuan (trust controlling) atau monopoli lainnya, dengan maksud untuk mempromosikan kompetisi di dalam bisnis (Oxford University Press, 2020). Selengkapnya: (https://www.lexico.com/en/definition/antitrust)

[6] Selengkapnya: https://www.marxist.com/unicef-holocaust-poverty101204.htm

[7] Selengkapnya: https://supreme.justia.com/cases/federal/us/221/1/

[8] Sebelum tahun 2000-an, Nokia kurang lebih punya posisi yang sama besarnya dengan Microsoft di tahun 2005, namun akhirnya tersingkir dari pasar di era ponsel pintar. Meskipun tidak seekstrem ketersingkiran Nokia, posisi monopoli Microsoft juga di tahun 2020 ini sudah cukup tergeser misalnya terutama oleh Apple di industri komputer, laptop, dan ponsel pintar, juga dengan dirintisnya berbagai produk terpadu dari Google yang juga meliputi komputer, laptop, dan ponsel pintar.


Artikel ini diterjemahkan Ilham Fathur Ilmi dari marxist.com dan dipublikasi di sini untuk tujuan pendidikan.


Gambar: independent.co.uk

35 Shares

Tinggalkan Balasan