Covid-19 dan Masa Depan Kelas Pekerja

Muhammad Ifan Fadillah*

 

Beberapa waktu lalu, ratusan pekerja kontrak di PT Aerofood ACS Bandara Soekarno-Hatta dipecat. Hal ini membuat Serikat Buruh Gerakan Buruh Katering (SB GEBUK) memprotes sikap anak perusahaan PT Garuda Indonesia BUMN atas kebijakan pemecatan pekerja. Seperti yang dikatakan Isan, Ketua SB GEBUK kepada Tangerang News, ”Ya, ada 445 buruh kontrak bahkan lebih yang di-PHK (pemutusan hubungan kerja).”[1] Dalam skala global, kabar lain datang dari Amerika Serikat (AS). Perusahaan e-commerce besar Amazon baru-baru ini memecat pegawainya yang kontak langsung dengan pasien terinfeksi virus corona (Orang Dalam Pantauan/ODP). Pegawai bernama Christian Smalls dipecat setelah melakukan aksi mogok kerja karena Amazon tidak mau menutup gudangnya di Staten Island, New York, AS selama wabah corona berlangsung. Berkat aksi mogok itulah Smalls yang diketahui sebelumnya bekerja sebagai asisten proses gudang di Staten Island dipecat.

Juru bicara Amazon Kristen Kish dikutip dari CNN Business mengatakan, “Tuan Smalls diketahui telah melakukan kontak dekat dengan rekan yang didiagnosis positif corona. Untuk itu, ia kita minta melakukan karantina mandiri dirumahnya selama 14 hari dan kami tetap menggajinya. Meskipun ada instruksi seperti itu, dia tetap datang (ke gudang) 30 Maret kemarin, menempatkan tim lain dalam resiko.” Saat dihubungi melalui telpon, Smalls mengaku bahwa dirinya telah menerima pemecatan terhadap dirinya. Akan tetapi tindakan itu jelas menunjukkan sikap apatis Amazon. “Amazon hanya peduli pada target-target perusahaan dan mereka tidak peduli dengan pegawai,” ungkapnya. Smalls melakukan protes sebab sudah ada sekitar 5 hingga 7 pekerja yang didiagnosis terjangkit virus corona di fasilitas itu.[2]

Di Prancis, negara meminta perusahaan untuk tidak memecat karyawan mereka, termasuk melalui skema yang memungkinkan bisnis untuk mengurangi jam kerja tanpa karyawan menerima gaji besar. Hampir 100 ribu perusahaan Prancis telah meminta pemerintah untuk mengganti mereka karena menempatkan 1,2 juta pekerja pada jam yang lebih pendek atau nol sejak wabah. Sementara di Inggris, pemerintah setempat mengatakan 477 ribu orang telah mengajukan permohonan selama sembilan hari terakhir untuk Universal Credit, yakni pembayaran untuk membantu biaya hidup bagi mereka yang menganggur atau berpenghasilan rendah. Pemikir Yayasan Resolution mengatakan bahwa itu merupakan peningkatan lebih dari 500 persen dari periode yang sama tahun 2019. Selain itu, peningkatan pengangguran juga terjadi di Irlandia, bahkan melonjak sampai sekitar 18% pada Kamis 2 April 2020.[3]

Coronavirus (CoV) adalah keluarga besar virus yang menyebabkan berbagai penyakit dengan gejala ringan sampai berat. Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV) merupakan dua jenis coronavirus yang menyebabkan penyakit dengan gejala berat. Sementara Novel Coronavirus (2019-nCoV) adalah virus jenis baru yang belum pernah diidentifikasi sebelumnya pada manusia. Virus corona adalah zoonosis (ditularkan hewan dan manusia), dengan SARS-CoV yang ditransmisikan dari kucing luwak (civet cats) ke manusia dan MERS CoV dari unta ke manusia. Namun coronavirus jenis lainnya beredar pada hewan dan belum terbukti dapat menginfeksi manusia.[4]

Kebanyakan coronavirus menginfeksi dan bersirkulasi di hewan. Di antaranya, tujuh jenis dapat menginfeksi manusia, yaitu dua alphacoronavirus (229E dan NL63), empat betacoronavirus (OC43, HKU1, MERS-CoV, dan SARS-CoV), dan terakhir Novel Coronavirus (2019-nCoV). Pada tanggal 11 Februari 2020, World Health Organization memberi nama virus baru tersebut Severa Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS-CoV-2) dan penyakitnya Coronavirus disease 2019 (COVID-19).[5]

Melalui tulisan ini, saya mencoba memberikan tawaran, mengapa kelas pekerja perlu menyikapi pandemi covid-19 dalam lensa marxisme. Mengapa marxisme? Lalu mengapa kelas pekerja dalam marxisme merupakan subjek revolusioner? Bagaimana seharusnya sikap kelas pekerja dalam menghadapi pandemi?

Salah paham terhadap Marxisme[6]

Marxisme sering disalahpahami. Ajaran-ajarannya sering dianggap menakutkan karena akan menghapuskan semua kepemilikan pribadi. Padahal, Marx sendiri menentang ide ini karena ahistoris. Ini terjadi ketika ia mengkritik ide-ide sosialis (utopis) yang memiliki banyak pengikut pada zamannya, Tokohnya saat itu adalah Prodhoun. Ia berpendapat bahwa untuk menegakkan sosialisme, kepemilikan harus dihapuskan. Ia berpendapat demikian karena menganggap kepemilikan pribadi (apropriasi) adalah pencurian. Pendapat ini dikritik habis oleh Marx melalui The Poverty of Philosophy.

Menurut Marx, masyarakat manusia bersandar pada apropriasi (yang dimaknai sebagai terma aktif bagi kepemilikan atau hak memiliki melalui kerja) alam sebagai basis material bagi kerja dan produksi yang menyiratkan bahwa semua masyarakat bergantung pada kepemilikan. Tidak mungkin manusia yang hidup tanpa apropriasi terhadap alam, tanpa produksi, dan tanpa kepemilikan dalam berbagai bentuknya. “Seluruh produksi merupakan apropriasi terhadap alam yang dilakukan individu di dalam dan melalui suatu bentuk spesifik masyarakat.

Pernyataan Proudhon bahwa “kepemilikan pribadi adalah pencurian” menyingkirkan masalah fundamental tentangperkembangan bentuk apropriasi dalam sejarah manusia. bentuk kepemilikan yang partikuler pada setiap zamandan tempat. Demikian pula halnya dengan manusia sebagai makhluk material dan objektif, ia tidak dapat melepaskan dirinya dari apropriasi terhadap alam, yakni properti kepemilikan dalam segala bentuknya yang bervariasi sebagai kondisi objektif dari keberadaan mereka. Namun, yang mungkin adalah pembebasan revolusioner umat manusia dari bentuk-bentuk metabolisme sosial manusia dengan alam yang lebih teralineasi. Dari komunal sampai bentuk yang lebih ekstrem dari komodifikasi pribadi, apropriasi dalam berbagai bentuknya merupakan basis universal bagi masyarakat dan kehidupan itu sendiri.

Apropriasi manusia terhadap alam (penggunaan pemberian hadiah gratis dari alam) menurut Marx bukanlah pencurian. Mengapa? Karena “kerja aktual” sebagai apropriasi terhadap alam merupakan syarat pemenuhan kebutuhan manusia. Kerja aktual menjadi aktivitas yang memdiasi metabolisme antara manusia dengan alam. Maka, ide menghapus kepemilikan secara umum karena dianggap pencurian adalah jalan buntu bagi gerakan revolusioner.

Mengapa marxisme menempatkan kelas pekerja sebagai kelas revolusioner?

Di sisi lain, umumnya, cara kita melihat sejarah perkembangan kapitalisme, baik sebagai doktrin, manajemen, dan teknologi dalam kerangka “Revolusi Kopernikan”. Bahwa kapitalisme adalah cara-cara baru dalam meng-ekspropriasi profit. Menurut Mario Tronti, pemikir marxis Italia, cara pandang ini sangat liberal dan anehnya ini dianut oleh para Marxis dan revolusioner. Cara pandang ini berangkat dari asumsi yang sepenuhnya borjuis dan kapitalis, karena yang menjadi subjek sentral di sini adalah kapital itu sendiri, sementara peran pekerja diabaikan dalam evolusi linear kapital.[7]

Dalam kapitalisme. relasi borjuis dan proletariat adalah relasi yang saling mensyaratkan agar keberadaan sistem kapitalisme tetap eksis dalam epos sejarah masyarakat saat ini. Selain itu, terdapat kesatuan antara pekerja dan kapital. Kapitalisme tidak akan berkembang seandainya tidak ada resistensi dari para pekerja yang diperburuh olehnya. Hidupnya kapitalisme dilihat dari perkembangan teknologinya didapatnya justru dari perlawanan pekerja. Kapital harus memutar otak sedemikian rupa untuk menemukan cara-cara baru dalam meredam, menaklukan, mengalihkan mendistraksi perlawanan-perlawanan kelas pekerja.[8]

Menurut Marx dan Engels, kelas adalah hubungan sosial antara produser (proletariat) dengan pemilik alat-alat prooduksi (borjuasi) yang merampok nilai lebih (surplus value) dari kerja proletariat.[9] Kelas proletariat dimaknai sebagai kelas yang tidak memiliki modal dan hanya menjalankan alat-alat produksi yang diperas untuk menciptakan nilai lebih pada relasi produksi yang menguntungkan kaum borjuis, sedangkan kelas borjuis adalah kelas yang memiliki modal dan alat-alat produksi.[10] Relasi antara kelas proletariat dan kelas borjuasi tidak akan pernah setara dan pasti akan menimbulkan ketidakadilan yang berlaku secara umum, bukan hanya satu atau dua orang tertentu saja. Di sini penting untuk melihat tulisan awal Marx yang diambil oleh Avineri:

“Sebuah kelas yang memiliki ikatan radikal pasti akan terbentuk di tengah-tengah masyarakat sipil, tapi bukan bagian dari masyarakat sipil. Sebuah kelas yang akan jadi kehancuran bagi kelas lainnya. Sebuah kelas dalam masyarakat yang bersifat universal karena penderitaan universal yang mereka alami, yang menuntut ganti rugi, bukan secara khusus karena ketidakadilan yang diterima kelas ini, bukan karena ketidakadilan yang dialami satu dua orang tertentu, melainkan karena ketidakadilan yang berlaku secara umum.” (Avineri 1969:59)[11]

Bagi Marx kelas pekerja memang “berada di tengah-tengah masyarakat sipil tapi bukan bagian dari masyarakat sipil”. Masyarakat sipil menciptakan dan memperluas ukuran dari kelas pekerja tapi tidak pernah memberikan kesempatan bagi kelas pekerja untuk mengakses keuntungan-keuntungan yang didapatkan masyarakat itu secara keseluruhan. Ketidakadilan yang menimpa kelas pekerja ini adalah deprivasi (hidup serba kekurangan) yang dialaminya, di mana deprivasi ini tidak hanya terjadi untuk barang-barang material saja tapi juga terwujud pada jenis dan level budaya yang tercermin dari barang-barang itu. Marx memandang bahwa budaya juga merupakan produk dari tenaga kerja yang dikerahkan para pekerja. Maka “ketidakadilan yang berlaku secara umum” ini merujuk pada kondisi di mana seseorang telah bekerja keras untuk mewujudkan kehidupan yang beradab namun ia sendiri tidak bisa mendapatkan hidup yang beradab seperti itu.[12]

Menurut Marx, kondisi deprivasi yang dialami kelas pekerja ini menjadikannya sebagai “kelas universal”, karena ”penderitaan dan dehumanisasi” yang dialaminya memperlihatkan kondisi kehidupan sebagian besar umat manusia.” (Avineri 1969:52)[13]

Kapitalisme, pandemi, dan kerentanan kelas pekerja

Pandemi Covid-19 telah menginfeksi manusia hingga menembus angka 4 juta tersebar di berbagai negara dan menelan 725 korban ribu jiwa.[14] Ekonom Deutche Bank berpendapat bahwa paruh pertama 2020 akan mengalami kemerosotan terburuk sejak 1930-an. “Penurunan triwulan dalam pertumbuhan PDB yang kami antisipasi secara subtstansial melebihi apapun yang sebelumnya tercatat akan kembali ke setidaknya Perang Dunia II,” ungkapnya. Oxford Economics menganggap ekonomi AS akan berkontraksi pada tingkat tahunan 12% pada akhir Juni.[15] Disamping itu wabah pandemi COVID-19 ini juga menimbulkan dampak pada bidang ekonomi yang berupa krisis yang mengguncang ekonomi dan pasar tenaga kerja yang berdampak tidak hanya pasokan (produksi barang dan jasa) tetapi juga permintaan (konsumsi dan investasi).

Sumber: International Labour Organization, 2020

Ini adalah perkiraan jumlah pengangguran akibat pandemi COVID-19 terhadap pertumbuhan ekonomi (PDB) yang dikeluarkan oleh Internasional Labour Organization (ILO) dari McKibbin dan Fernando (2020) dengan asumsi bahwa selama tahun ini semua negara akan menderita pandemi. Studi ini mengusulkan tiga potensi skenario berdasarkan kekuatan efek virus (rendah, sedang, tinggi). Penggunaan skenario ini menghasilkan tiga skenario pengangguran dengan ketidakpastian yang berasal dari margin of error dampak skenario pertumbuhan PDB terhadap pengangguran:

  • Skenario “Rendah” di mana pertumbuhan PDB turun sekitar 2 persen. Pengangguran global akan meningkat sebesar 5,3 juta dengan ketidakpastian 3,5 hingga 7 juta.
  • Skenario “Pertengahan” di mana pertumbuhan PDB turun 4 persen. Pengangguran global akan meningkat sebesar 13 juta (7,4 juta di negara-negara berpenghasilan tinggi) dengan ketidakpastian 7,7 hingga 18,3 juta.
  • Skenario “Tinggi” di mana Covid-19 memiliki efek yang sangat besar, di mana pertumbuhan PDB sekitar 8 persen. Pengangguran global akan meningkat 24,7 juta,dengan ketidakpastian mulai dari 13 juta hingga 36 juta.

Sumber: International Labour Organization, 2020

Data lain yang dipublikasikan oleh Internasional Labour Organization (ILO) mengenai implikasi COVID-19 terhadap pendapatan tenaga kerja dan kemiskinan kerja, sebagai akibatnya pasokan tenaga kerja menurun karena tindakan karantina dan penurunan kegiatan ekonomi. Dampak ketenagakerjaan menimbulkan kerugian besar bagi pekerja. Kerugian keseluruhan pada pendapatan tenaga kerja diperkirakan berkisar antara 860 sampai 3.440 milliar USD. Hilangnya pendapatan tenaga kerja akan berdampak pada konsumsi barang dan jasa yang lebih rendah, yang merugikan untuk kelangsungan bisnis.

Data itu juga memperlihatkan pandemi COVID-19 berdampak pada kemiskinan kerja yang cenderung juga meningkat secara signifikan. Dampak dari pendapatan itu dihasilkan dari penurunan kegiatan ekonomi akan sangat berdampak besar pada pekerja yang dekat atau di bawah garis kemiskinan. Dampak COVID-19 mengakibatkan pertambahan 8,8 juta orang dalam kemiskinan bekerja di seluruh dunia. Di bawah skenario menengah dan tinggi, akan ada antara 20,1 juta dan 35,0 juta lebih banyak orang dalam kemiskinan bekerja daripada sebelum perkiraan pra COVID-19 untuk tahun 2020.[16]

Emansipasi kelas pekerja untuk dirinya dan masyarakat

Selama ini, sudah banyak solusi dari berbagai alangan terhadap nasib kelas pekerja dalam krisis kapitalisme di tengah pandemi ini. Misalkan, solusi-solusi yang ditawarkan International Labour Organization (ILO), seperti meningkatkan K3 termasuk jarak sosial, dan penyediaan peralatan pelindung, mendorongan pengaturan pekerja yang fleksibel yang sesuai seperti teleworking, mencegah diskriminasi dan pengucilan terkait COVID-19, meningkatkan akses universal ke layanan kesehatan yang dibiayai secara kolektif untuk semua, termasuk yang tidak diasuransikan pekerja dan keluarga mereka. Dan perlunya akses cuti sakit berbayar yang dibiayai secara kolektif, tunjangan sakit untuk memastikan keamanan penghasilan bagi mereka yang sakit, dikarantina atau dirawat untuk anak-anak, lansia atau anggota keluarga lainnya.[17]. Tapi, solusi ini sifatnya jangka pendek dan tidak menyasar problem struktural. Untuk itu pentingnya melihat permasalahan ini masih dalam “hukum gerak ekonomi” yang dimaknai sebagai hukum-hukum sosial yang bukan bersifat meta-historis, melainkan hukum-hukum sosial yang spesifik dalam masyarakat modern.[18] Tentu solusi yang dicoba ditawarkan di sini punya prasyarat yaitu ketika pandemi COVID-19 telah berakhir dan kelas pekerja sudah tidak terjangkit COVID-19 untuk melakukan upaya perubahan secara struktural.

Pandemi COVID-19 menimbulkan krisis yang lebih parah dibanding krisis 2008. Dalam catatan Achmad Nur Hidayat, stimulus fiskal yang diberikan oleh seluruh negara di dunia pada 2009 akibat krisis 2008 tercatat hanya 1,7% dari Produk Domestik Bruto. Sedangkan pada tahun ini, total stimulus yang diberikan mencapai 2,8% dari PDB. “Ini menunjukkan krisis (saat ini) lebih parah dari 2008, sekarang kalau dari sisi presentase stimulus fiskal terhadap PDB kita berasumsi bahwa virus corona mengguncang ekonomi dunia,” ungkapnya dalam Kajian Online Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES).[19] Ini yang perlu direspon cepat oleh kelas pekerja.

Di epos sejarah saat ini, kita membutuhkan waktu, kerja, dan kesabaran, terutama peristiwa-peristiwa besar yang akan menggetarkan kelas proletar dan organisasi-organisasinya. Sekedar mengulang-mengulang dalil umum, dan rumusan-rumusan yang abstrak adalah sama sekali tidak memadai untuk menjelaskan realitas konkret dari tahapan yang sedang kita lalui.[20] Dengan menganalisis bahwa kapitalisme dan krisis merupakan dua sisi dari sekeping mata uang. Dalam sejarah hampir dua abad terakhir, sistem ini mengalami guncangan silih berganti. Sebelum 2008, krisis besar sudah berulang terjadi: tahun 1820, 1870, 1930, maupun 1970. Untuk memperpanjang nafas, sistem ini selalu berusaha keluar dari krisis dengan resep penghilang rasa sakit, tetapi tidak menyelesaikan akar masalah. Marx menganggap bahwa ketidakstabilan kapitalisme bersifat endogen. Artinya krisis ini bukan sesuatu yang bersumber dari luar, tetapi tertanam di dalam sistem ini.[21] Dalam pembahasan sebelumnya, meminjam analisis Mario Tronti dalam sentralitas kelas pekerja, kita mengetahui bahwa kapital-lah yang reaksioner dan hanya bermutasi untuk menahan gerakan perlawan revolusioner kelas pekerja, dan dalam masa krisis akibat pandemi COVID-19 penting untuk mengetahui bahwa kapital mengalami masa-masa yang dalam dirinya sendiri terdapat kelemahan. Itu bisa menjadi peluang bagi gerakan kelas pekerja untuk merebut sarana-sarana produksi atau kapital yang tidak bisa lagi mengalami mutasi dan reaksioner dalam membendung perlawanan kelas pekerja.

Sudah saatnya kelas pekerja merebut moment krisis yang timbul diakibatkan oleh pandemi COVID-19 dan harus selalu diingat bahwa dalam sejarah krisis-krisis sebelumnya selalu saja kelas kapitalis bisa merebut moment dan memperbaiki kesalahan yang dibuatnya sendiri. Ikhtiar kelas pekerja di seluruh dunia adalah merebut momen krisis, memenangkan pertarungan dengan para pemilik sarana produksi, dan mewujudkan suatu sistem yang egaliter bagi kalangan pekerja: sistem Sosialisme. Untuk itu sebelum melakukan aksi gerakan revolusioner kelas pekerja, penting untuk menafsirkan realitas saat ini sebagaimana adanya dengan bekal warisan metode yang diberikan Marx yaitu materialisme dialektika histroris. Dengan itu kita dan kelas pekerja bisa menyusun metode-metode solutif bagi kalangan pekerja untuk merebut dominasi kelas borjouis dan mengakhiri sistem kapitalisme, sistem yang punya awal, tidak niscaya selalu ada dalam sepanjang epos sejarah, dan memungkinkan untuk diakhiri. Krisis akibat pandemi COVID-19 inilah salah satu momen pengakhiran sistem kapitalisme. Inilah obat yang kita butuhkan dari sistem produksi eksploitatif kapitalisme dengan mewujudkan obat penawar Sosialisme dan kelas pekerja-lah yang bukan hanya berperan sebagai kelas melainkan sebagai perwakilan dari keseluruhan masyarakat sebagai yang universal.

“Untuk setiap kelas baru yang hendak menggantikan kelas yang berkuasa sebelumnya, maka kelas itu di dalam melaksanakan tujuan-tujuannya mau tidak mau harus mengajukan kepentingannya sebagai kepentingan bersama dari semua anggota masyarakat. Dengan kata lain, dalam bentuk idealnya, kelas itu harus membuat ide-ide yang ia ajukan memiliki bentuk universal. Sebuah kelas yang sedang melakukan revolusi dapat dilihat sejak dari awal di mana ia tidak lagi berperan sebagai kelas melainkan sebagai perwakilan dari keseluruhan masyarakat.” (german ideology, dikutip oleh Aviner 1969:56-59)[22]

 

*) Penulis adalah Kader HMI Cabang Makassar Timur

Catatan kaki

[1] http://tangerangnews.com/bandara/read/30775/Dampak-Corona-Ratusan-Pekerja-di-Bandara-Soetta-Dipecat diakses pada tanggal 2 April 2020 pukul 10:58.

[2] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4961050/amazon-pecat-karyawan-yang-odp-corona diakses pada tanggal 2 April pukul 11:20.

[3] https://indopolitika.com/ilo-prediksi-lebih-dari-25-juta-penduduk-dunia-bakal-menganggur-akibat-corona/ diakses pada tanggal 03 April 2020.

[4] Fathiyah Isbaniah, dkk., Padoman Kesiapsiagaan Menghadapi Infeksi Novel Coronavirus (2019-nCoV), Kementrian Kesehatan RI dan Direktorat Jendral Pencegahan dan Pengendalian Rakyat (P2P), Januari 2020.

[5] Erlina Burhan dkk., Pneumonia Covid-19 Diagnosis dan penatalaksaan di Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, Jakarta 2020.

[6] Bagian ini disarikan dari https://monthlyreview.org/2018/07/01/marx-value-and-nature/

[7] Hizkia Yosie Polimpung, Pekerja adalah Universal Manusia dan Subjek dalam Mutasi Kapitalisme, Jurnal Indoprogress, Vol II No.8, 2017.

[8] Hizkia Yosie Polimpung, Pekerja adalah Universal Manusia dan Subjek dalam Mutasi Kapitalisme, Jurnal Indoprogress, Vol II No.8, 2017.

[9] Coen husain pontoh, Kelas dan Perjuangan Kelas Dalam Manifesto Komunis, https://indoprogress.com/2011/06/kelas-dan-perjuangan-kelas-dalam-manifesto-komunis/ diakses pada tanggal 03 april 2020.

[10] M najib yuliantoro, peristiwa 1965, Kontradiksi Kelas dan Sejarah Alternatif, http://lsfcogito.org/peristiwa-1965-kontradiksi-kelas-dan-sejarah-alternatif/ diakses pada tanggal 2 april pukul 12:55.

[11] James A.Caporaso dan David P.Levine, Teori-Teori Ekonomi Politik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan Kedua 2015.

[12] James A.Caporaso dan David P.Levine, Teori-Teori Ekonomi Politik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan Kedua 2015.

[13] James A.Caporaso dan David P.Levine, Teori-Teori Ekonomi Politik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan Kedua 2015.

[14] https://www.worldometers.info/coronavirus/ diakses pada tanggal 06.00 WIB, 9 Mei 2020.

[15] Michael Robert, It Was the Virus that did it, https://braveneweurope.com/michael-roberts-it-was-the-virus-that-did-it diakses pada tanggal 01 April 2020.

[16] International Labour Organization note. COVID-19 and the world of work: Impact and policy responses.

[17] Ibid.

[18] Gerald Dumenil dan Duncan Folley, kata pengantar Mohamad Zaki Hussein, Analisa Marx atas Produksi Kapitalis, Indoprogress, 2015.

[19] Tegar Arief, Mana lebih Parah, Dampak COVID-19 atau krisis 2008? Ini Faktanya, https://ekonomi.bisnis.com/read/20200401/9/1220803/mana-lebih-parah-dampak-covid-19-atau-krisis-2008-ini-faktanya diakses pada tanggal 03 April 2020.

[20] https://www.bolshevik.info/krisis-kapitalisme-tugas-tugas-revolusioner-1.htm diakses pada tanggal 03 April 2020.

[21] Greg Albo dan Carlo Fanelo peng. Anto Sangaji, Penghematan Melawan Demokrasi Fase Otoriter Neoliberalisme, Indoprogress, 2015.

[22] James A.Caporaso dan David P.Levine, Teori-Teori Ekonomi Politik, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cetakan Kedua 2015.

Gambar: www.nbcnews.com


Baca Juga:

Covid-19: Kapitalisme Virus Corona dan Aktivisme Persisten

Pemanasan Global, Virus Bukan Solusi!

Kapitalisme ‘Mereproduksi’ Pandemi

Pandemi Covid-19 dan Mendesaknya Internasionalisme Proletariat

Bersama Sosialisme, Perempuan Lebih Bahagia

128 Shares

Tinggalkan Balasan