Demokrasi dan Kelas Pekerja: Riset terhadap Protes 100 Tahun di 150 Negara

Sirianne Dahlum

Peneliti Senior di Peace Research Institute Oslo dan Mahasiswa Post-Doctoral Internasional Security Program di Belfer Center, Harvard Kennedy School

Carl Henrik Knutsen

Profesor Ilmu Politik di University of Oslo

Tore Wig

Profesor Ilmu Politik di University of Oslo

 

Banyak pengamat menilai bahwa demokrasi saat ini sedang dalam bahaya. Termasuk di Amerika dan beberapa negara Eropa. Beberapa komentator menyalahkan kelas pekerja yang kurang berpendidikan di balik bangkitnya populisme sayap kanan di Amerika dan Eropa baru-baru ini.

Berdasarkan stereotip itu, kelas pekerja cenderung menolak terhadap globalisasi ekonomi dan imigrasi—dan lebih mendukung politisi dan partai populis yang otoriter. Menurut para analis politik, yang sebaliknya memperjuangkan nilai dan prinsip demokrasi adalah kelas menengah perkotaan yang lebih berpendidikan.

Tapi, benarkah pekerja industri merupakan kelompok anti demokrasi? Dalam sebuah penelitian terbaru, secara sistematis kami meneliti bagaimana rakyat memajukan demokrasi di 150 negara. Temuan kami: pekerja industri merupakan agen kunci demokratisasi, dan berperan lebih besar dari pada kelas menengah perkotaan. Ketika pekerja industri memobilisasi massa untuk melawan kediktatoran, demokratisasi sangat mungkin diwujudkan.

Keberhasilan Protes Tergantung Siapa yang Melakukannya

Dalam sejarah modern, masyarakat di berbagai negara mengorganisir aksi massa demi memperjuangkan kebebasan politik dan kemerdekaan. Beberapa diantaranya berhasil. Demonstrasi di Hong Kong merupakan contoh terkini mobilisasi massa untuk kebebasan hak-hak politik di seluruh penjuru dunia. Contoh lain juga termasuk Gerakan Suffragist pada awal abad ke 20, gerakan anti-komunis di Eropa Timur 30 tahun lalu, dan aksi massa anti rezim di Timur Tengah dan Afrika Utara saat Arab Spring.

Namun dengan trajektori yang berbeda, pengalaman negara-negara Arab pasca Arab Spring menunjukkan bahwa mobilisasi luas tidak selalu berujung pada demokrasi—bandingkan saja bagaimana demokrasi di Tunisia dengan otokrasi Mesir. Protes memang tidak selalu berujung pada kejatuhan seorang diktator, sebagaimana Iran, dimana rezim petahana tetap bertahan dari desakan Gerakan Hijau 2009. Lantas, jika beberapa gerakan mampu memenangkan demokrasi, kenapa yang lain gagal?

Dalam riset terbaru kami, berdasarkan perbandingan dari semua gerakan protes anti-rezim di seluruh dunia yang terjadi dari tahun 1900 sampai sekarang, kami menemukan bahwa gerakan protes yang memicu demokratisasi tergantung pada siapa yang melakukannya. Lebih spesifik lagi, tergantung pada latar belakang sosial dari massa aksi. Apakah massa aksi sebagian besar dari kelompok kelas menengah perkotaan, pekerja industri, pegawai negeri, atau para petani?

Gerakan protes memang perpaduan dari banyak kelompok berbeda. Sebagai contoh di Tunisia dan Mesir saat gerakan Arab Spring. Pada tahun 2015, hadiah Nobel perdamaian diberikan pada National Dialogue Quartet, sebuah organisasi di Tunisia yang berhasil mendorong transisi demokrasi secara damai di sana. Organisasi tersebut merepresentasikan koalisi lintas kelas yang lebih luas, yang di dalamnya termasuk kelas pekerja yang terorganisasi. Di Mesir, gerakan pro demokrasi Arab Spring terbatas pada kelas sosial tertentu, terutama kelas menengah perkotaan profesional.

Abad 20 juga menggambarkan gerakan protes dan revolusi yang kebanyakan didominasi oleh petani. Berdasarkan data kami, protes yang dimotori kalangan petani jarang sekali membawa perubahan demokratis. Bisa jadi, hal ini karena mereka kurang memiliki kekuatan untuk mengganti sebuah rezim atau motivasi untuk menerapkan demokrasi.

Lain Cerita Jika Protes Dilakukan Pekerja Industri

Kami menemukan bahwa demokratisasi jauh lebih memungkinkan terjadi jika massa gerakan protes didominasi oleh kelompok menengah perkotaan—terlebih lagi jika semuanya kelas pekerja industri. Kelompok-kelompok tersebut sering mengkombinasikan preferensi demokrasi yang kuat (terlebih di masyarakat perkotaan) dengan kemampuannya mendorong perubahan-perubahan yang demokratis.

Pekerja industri bisa menggunakan serikat pekerja, jaringan buruh internasional, dan partai sosial demokratik untuk mengonsolidasikan kekuatan melawan rezim diktator. Pada titik ini, kami sepakat dengan kajian yang mendalam dan berpengaruh di beberapa negara Eropa dan Amerika Latin yang menyorot peran historis gerakan pekerja dalam memperjuangkan hak pilih universal dan pemilu multipartai yang kompetitif.

Namun bisa jadi pengalaman-pengalaman pada studi kasus tersebut tidak sama. Studi kami ini merupakan studi pertama yang secara sistematis menyelidiki apakah komposisi sosial dari gerakan protes penting bagi demokratisasi dengan sampel negara-negara secara global. Kami menyelidiki semua gerakan aksi massa besar di seluruh dunia dari tahun 1900-2006, dan mencatat siapa yang mendominasi setiap gerakan. Apakah itu pekerja industri, kelas menengah perkotaan, pekerja pedesaan, kelompok etnis, kelompok agama, dll.

Temuan terkuat dalam penelitian kami adalah gerakan protes yang didominasi oleh pekerja industri mengungguli semua aksi protes lainnya dalam mewujudkan demokrasi. Aksi massa pekerja industri juga tetap lebih kuat tanpa adanya dukungan dari massa protes yang lain. Ada beberapa bukti bahwa gerakan kelas menengah perkotaan dikaitkan dengan demokratisasi, tetapi lebih lemah daripada bukti pentingnya pekerja industri.

Perdebatan baru-baru ini tentang meningkatnya populisme otoriter memang mengkambinghitamkan kelas pekerja, namun hasil temuan kami menunjukkan bahwa pekerja industri memiliki peran historis yang krusial bagi kemajuan demokrasi.


 ** Tulisan ini kami terjemahkan secara kolektif dari artikel di Washington Post, “We checked 100 years of protests in 150 countries. Here’s what we learned about the working class and democracy”, 24 Oktober 2019. Diterbitkan di sini untuk tujuan pendidikan.

Gambar: https://onedio.com/haber/16-madde-ile-kuba-nin-yasaklar-listesi–414818


Baca Juga: Idul Fitri, Kelas Pekerja, dan Penebusan Palsu

Baca Juga: Kapitalisme Memproduksi dan Mereproduksi TKI

Baca Juga: Aksi Massa dan Desakan Pembangunan Kekuatan Politik Alternatif

162 Shares

Tinggalkan Balasan