Gerakan Feminis dan Perjuangan Kesetaraan Asimetris

Oleh:

Maryam Jameela

(Mahasiswi Psikologi UIN Malang, Pegiat FLAC Malang)

Tanggapan atas Penindasan Berlapis dan Gerakan Perempuan

Ekspansi gerakan feminis dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Namun sampai hari ini, feminisme masih memancing prasangka yang tiada henti dari sebagian punggawa gerakan sosial. Feminisme dianggap kontradiktif karena mengusung ‘ide kesetaraan gender’, dimana hanya membela penindasan pada satu kaum saja: wanita. Beberapa prasangka ini muncul dikarenakan fakta bahwa penindasan selama ini tidak pernah mengenal jenis kelamin. Namun beberapa dari kita juga masih kabur akan fakta bahwa kaum perempuan-lah yang paling tidak berdaya menghadapi segala opresi (penindasan, red) yang diciptakan masyarakat patriarki hari ini. Mengapa?

Sebelum kita menjawab pertanyaan tersebut, alangkah baiknya kita memahami dulu apa itu patriarkisme, yang menjadi musuh utama kaum feminis, dan matriarkisme sebagai sebuah tesis yang selalu dihadapkan dengan patriarkisme. Patriarkisme merupakan suatu sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai sosok otoritas sentral dalam berbagai organisasi sosial. Patriarkisme adalah sebuah bentuk pengkristalan budaya patrilineal. Di satu sisi ada sebuah tesis tandingan yaitu matriarkisme, yang juga suatu bentuk turunan dari budaya matrilineal. Lalu di manakah konflik ini bermula?

Engels memberi sedikit pencerahan perihal konflik yang bermula ketika feminitas menjadi ter-subordinat-kan dan dianggap second class dalam masyarakat. Dahulu, tugas-tugas maskulin dan feminin yang setara dalam keluarga kini telah bergeser. Tugas-tugas yang dilakukan oleh seorang ibu menjadi kelas dua dan dianggap tidak lebih hebat dari tugas-tugas seorang ayah. Tidak pernah ada masalah ketika tugas-tugas perempuan dalam lingkup domestik dihargai sama dengan tugas-tugas laki-laki. Namun konflik mulai terjadi ketika wanita di-subordinat-kan dan dianggap tidak lebih penting dari laki-laki. Adapula Bachofen, seorang filsuf yang sezaman dan sepemikiran dengan Marx, telah berhasil menjelaskan perkembangan dan pergeseran matriarki menuju patriarki dalam karyanya yang berjudul Myth Religion and Mother Right.

Di sini Bachofen menjelaskan bahwa Matriarkisme berawal dari matrilineal dimana dari seorang ibulah, konsep altruisme, dan kesetaraan universal diturunkan terhadap anak. Seorang ibu mencintai anak-anaknya tanpa pilih kasih sehingga seorang anak juga belajar mencintai dari ibunya. Konsep diri seperti ini yang membangun karakter dan prinsip-prinsip akan kemerdekaan, kesetaraan, kebahagiaan dan pengakuan hidup tanpa syarat.[i] Berbeda dengan prinsip matrilineal, patrilineal berbicara tentang hukum, aturan, kebenaran, hierarki dan perlindungan diri. Bahkan Bachofen secara halus mengungkapkan sebuah persaudaraan yang setara dan terbangun dari tangan ibu, kini berubah menjadi sebuah kompetisi dan dominasi hierarkis di tangan ayah. Bahkan lebih lanjut, Fromm mengatakan bahwa prinsip patriarkisme yang menjunjung tinggi kompetisi inilah yang menjadi suatu bentuk tertinggi dari evolusi. Namun hal ini tidak lantas menjadikan matriarkisme sebagai konsep yang rapuh dan usang.

Lebih lanjut, Erich Fromm mengklasifikasikzn kekurangan dan kelebihan dari kedua konsep ini. Matriarkisme sendiri unggul di dalam ide akan kesetaraan, universalitas, dan pengakuan kehidupan tanpa syarat. Sedangkan ide ini lemah dikarenakan berada dalam ikatan darah dan tanah. Lemah dalam sisi kemajuan. Di lain pihak, patriarkisme unggul dalam prinsip akan kebenaran, hukum, kemajuan ilmu pengetahuan peradaban dan perkembangan spiritualitas. Namun konsep patriarkisme menjadi cacat karena kental akan unsur hierarki, penindasan, ketidaksetaraan dan humanitas. Dalam hal ini, patriarkisme mustahil menciptakan suatu tatanan masyarakat yang setara dan tanpa kelas.

Lambat laun, matriarkisme yang termanifestasi dalam kehidupan subsisten pun tergeser oleh patriarkisme yang menjanjikan sebuah kemajuan dan peradaban. Prinsip-prinsip kompetisi yang dibangun oleh patriarkisme kini melahirkan musuh baru bagi kaum Feminis yang tak kalah kuat dan berbahaya dari ayahnya sendiri: Kapitalisme. Kapitalisme merupakan sebuah konsekuensi atas prinsip kompetisi tiada henti yang dibangun masyarakat patriarki. Dalam hal ini, bukan kapitalisme yang menjaga budaya patriarki tetap ada, namun budaya-budaya patriarkilah yang memberi ruang dan kesempatan bagi kapitalisme untuk berkembang pesat dan tidak terkalahkan.

 

Perseteruan antar Gender, Realita atau Imaji ?

Berangkat dari konsep historis yang coba penulis kemukakan di atas terkadang masih saja mendapatkan sanggahan karena dianggap terkesan dibuat-buat. Namun pemikiran Bachofen bukanlah sebuah imaji. Beberapa dekade kemudian telah banyak dilakukan riset-riset perihal pola komunikasi dan dimensi psikologis antar gender. Salah satu ilmuwan linguistik termasyhur hari ini adalah Deborah Tannen. Hasil penelitiannya membuktikan adanya perbedaan pola komunikasi yang mendasar pada laki-laki dan perempuan. Laki-laki cenderung mengedepankan Ethic of Right, mereka membangun sebuah komunikasi untuk meraih status, pola komunikasi laki-laki dipenuhi oleh sesuatu yang disebut Nietczhe sebagai desire for power dan hierarki.[ii] Sedangkan perempuan mengedepankan Ethic of Care dan cenderung berkomunikasi untuk membangun sebuah relasi, dalam hal ini perempuan menekankan prinsip kesetaraan, perempuan akan selalu berseteru dengan dominasi jenis apapun dikarenakan keinginannya untuk setara, ketika laki-laki berseteru dengan segala jenis dominasi dikarenakan ketidakinginannya untuk kalah dan tertindas. Penjabaran ini bukanlah sebuah upaya untuk berlaku seksis terhadap kaum laki-laki, namun ini murni penemuan Tannen, seorang Professor linguistik dari Georgetown University.

Credits to: instagram.com/indonesiafeminis
Credits to: instagram.com/indonesiafeminis

Di mata perempuan, kesetaraan adalah sebuah anteseden. Sedangkan beberapa laki-laki mengejar kesetaraan sebagai sebuah konsekuensi. Asimetrisme ini menjadi sebuah sumber konflik yang sangat vital. Sejatinya, kita sudah tidak perlu lagi menanyakan di mana letak konflik antar gender. Pertarungan antara dua laki-laki akan menjadi kuat karena mereka membangun prinsip kompetisi yang sama. Namun perseteruan antara laki-laki dan perempuan menjadi sebuah perseteruan yang tidak imbang dan tidak akan pernah habis. Karena konflik akan terhenti di mata perempuan ketika kesetaraan telah tercapai, namun dalam komunikasi laki-laki, konflik akan terhenti ketika telah terjadi kesepakatan menang dan kalah. Penjabaran ini bukanlah sebuah upaya untuk berlaku seksis terhadap kaum laki-laki, namun ini murni penemuan Tannen.

 

Feminisme: Sebuah Katarsis Berkelanjutan

Dari konflik-konflik inilah, Feminisme yang mulai populer karena gerakan Suffregate di Inggris, hadir sebagai sebuah katarsis. Konflik-konflik yang mengendap dan terpinggirkan ini memang terkesan laten sebelum masa itu, satu gebrakan dari gerakan perlawanan yang membuka mata seluruh dunia bahwa ada buruh perempuan ternyata mengalami luka yang lebih dalam akibat ketidakberdayaan mereka menghadapi penindasan di era revolusi industri. Penindasan ini berlanjut hingga hari ini, perempuan kini tidak lagi menjadi objek bahkan telah menjadi alat dari penindasan itu sendiri. Era Kapitalisme kini menyeret perempuan untuk ikut menyelam dalam arus kompetisi. Hingga banyak lahir gerakan perempuan Post-Feminist yang tidak lagi meminta kesetaraan, namun lebih jauh terseret pada pola komunikasi patriarki yang menuntut wanita untuk melahirkan gerakan pertukaran posisi untuk ikut mendominasi. Penindasan, patriarkisme, dan kapitalisme memang tidak pandang gender. Namun mereka lahir karena tidak seimbangnya komunikasi gender. Menurut Tannen, ketika laki-laki duduk bersama dengan laki-laki lain, akan lebih memungkinkan melahirkan aturan yang menuntut kompetisi dan hierarki dibandingkan ketika laki-laki duduk bersama perempuan.

Women from all areas of theatre attend the "Waking The Feminists" event at the Abbey Theatre. It follows criticism of the Abbey's "Waking The Nation" programme and the #WakingTheFeminists social media campaign. The event comes to Fordham University in New York this month. (Image: Irish Times video still; Bryan O'Brien / Paula Geraghty)
Perempuan dari seluruh area teater menghadiri agenda “Waking the Feminist” di Abbey Theatre pada Februari, 2016 (Image: Irish Times video still; Bryan O’Brien / Paula Geraghty) Credits to: irishamerica.com

Mimpi-mimpi feminis tidaklah terputus pada perolehan 30% di parlemen. Sungguh itu sebuah kesimpulan yang dangkal dan terburu-buru. Suara di parlemen tidak ada seujung kuku dari cita-cita Feminis. Feminisme memimpikan suatu tatanan masarakat yang adil dan setara, bahkan untuk prinsip kompetisi sekalipun, feminisme mencoba memberikan ruang yang seimbang, dimana maskulinitas dan feminitas berpadu menjadi sebuah harmoni. Feminisme membidik secara langsung konsep patriarki dan turunan-turunannya, yang diantaranya adalah Kapitalisme dan Prinsip Pasar. Dalam mencapai hal ini, gerakan Feminis menyiapkan banyak misi untuk diperjuangkan. Salah satunya adalah dengan masuk ke parlemen dengan harapan akan lahir konstitusi-konstitusi baru yang lebih peka terhadap perbedaan gender. Seperti yang dikemukakan oleh Rocky Gerung, “kaum Feminis sudah lelah dengan bualan alasan akan kasus meningginya kematian ibu dan anak, dikarenakan bakteri bakteri di rumah sakit”.

Kaum feminis paham betul bahwa hal ini murni disebabkan oleh ketidakpekaan gender pada APBN. Masih ada banyak lagi upaya-upaya politis kaum feminis dalam memperjuangkan feminis ethics-nya, tidak hanya dengan gerakan penyadaran kepada sesama perempuan. Lebih dari itu, gerakan feminis pun berusaha membebaskan laki-laki dari stereotype dengan cara mengajak mereka untuk ikut berjuang bagi kesetaraan.

Lalu kesetaraan seperti apa yang dicita-citakan kaum feminis? Feminisme memimpikan sebuah kesetaraan yang harmonis dalam tatanan yang asimetris. Maksudnya adalah feminisme merindukan sebuah kesetaraan yang mengizinkan hak hidup tanpa syarat dan tanpa opresi bagi semua kelas, bahkan bagi laki-laki itu sendiri. Feminisme merindukan sebuah penerimaan akan asimetrisme psikologis dan linguistik yang menjadi naluriah dasar laki-laki dan perempuan. Feminisme memimpikan sebuah tatanan masyarakat yang setara, adil, bebas dari penindasan namun tetap berkemajuan. Namun gerakan feminisme yang masih baru ini masih terpecah-pecah dikarenakan terlalu banyak produk patriarki yang harus dilawan. Alison Jaggar menyebutkan etika politik feminis masih terbagi-bagi dalam berbagai segmentasi seperti feminist radikal, feminis sosialis, feminist liberal, hingga ekofeminisme, masih membuat bingung para punggawa gerakan sosial yang sama merindunya akan kesetaraan. Mereka masih bertanya-tanya perihal siapa musuh spesifik feminisme, dan mengapa membawa konsep satu jenis gender dalam perjuangan akan kesetaraan. Feminisme membidik musuh yang sama dengan gerakan perlawanan lain, namun proses epistemik yang membawa asumsi filosofis yang berbedalah yang menjadikan feminisme menjadi terpinggirkan dan dianggap sebagai gerakan egosentris hingga hari ini.

Hemat penulis, jika kita mencoba memahami feminist ethic dengan lebih dalam, kita akan menemukan fakta bahwa feminisme menawarkan sebuah bentuk kesetaraan yang lebih kompleks dan tanpa syarat untuk melawan penindasan yang juga tanpa pandang gender. Kesetaraan yang memungkinkan semua orang untuk merasa aman dan nyaman di bawah naungannya, dimana kesetaraan ini menyediakan tempat bagi seluruh konsep pemikiran, bahkan yang berprinsip kompetitif sekalipun. Sebuah harapan yang masih sangat panjang untuk sampai pada cita-cita feminis ini, dimana bagi kaum perempuan sendiri, tidak mampu mewujudkannya sendiri. Perempuan masih menyediakan bangku kosong bagi para lelaki untuk bergabung dan berjuang bersama, menuju Masa Depan Feminis.

 

 

Eric Fromm, Cinta, Seksualitas, dan Matriarki, (terjemahan, Yogyakarta: Jalasutra, 2011)

Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, (Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 2013

Alisson Jaggar, Feminist Ethics and Human Nature. The Harvest.

JJ Bachofen, Spiritual Myths and Mother Rights.

Deborah Tannen, You Just Dont Understand. Sage Pub 2009

Heide Gotetnerr- Abendorth. Matriaarchal Society Definiton and Theory, Published in The Gift: Feminist Analysis. 2004

 

 

0 Shares

Tinggalkan Balasan