Tak Asal Melawan: Belajar dari Gerakan Politik Rakyat Bekasi

Hanya harus diingat, bila suatu pemerintahan memperoleh kekuasaan
melalui pemilihan umum, baik yang palsu atau legal konstitusional,
maka pecahnya perang gerilya tak dapat ditimbulkan.
Karena, kemungkinan dari perjuangan secara damai belum habis

(Ernesto Che Guevera, On Guerrilla Warfare)

Kronik kebebasan sipil selama 18 tahun terakhir belum mampu—untuk tidak menyebutnya gagal—mewujudkan perubahan. Oligarki masih tetap ada. Desentralisasi kekuasaan menjadi desentralisasi korupsi. Good Governance justru melegitimasi pelepasan dan komodifikasi aset-aset pulik (privatisasi). Ironi ini semakin kalut tatkala kelompok sipil yang tumbuh belum mampu mengonsolidasi diri. Belum ada harmoni. Yang mapan terjebak dalam isu-isu parsial. Yang tak mapan bergerak dengan asal melawan, reaksioner. Yang terakhir, gerakan mahasiswa adalah contohnya.

Mungkin sebagian kelompok dan individu aktivisme sipil merasa puas. Lantaran telah berhasil mempertahankan eksistensi institusinya di tengah karang apatisme publik, lantaran telah menemukan metode kerja yang membuatnya hingga kini masih tegak berdiri, atau hanya karena ia sudah berhasil mendongkrak eksistensi para aktivisnya. Tapi yang perlu disadari, perubahan signifikan belum terjadi. Situasi masih tetap sama. Bahkan dalam banyak titik lebih parah. Maraknya politik uang dalam Pilkada dan berkembangnya pola transaksional dalam berbagai dimensi penyelenggaraan pemerintahan, serta tidak adanya rasa malu bagi narapidana koruptor, adalah sedikit di antara sekian banyak buktinya. Bagi kalangan kritis, tak perlu lagi memperdebatkan soal ini.

Lalu sampai kapan situasi itu berubah? Dalam kondisi minus harapan seperti itu, muncul pola baru gerakan rakyat yang sudah sekian lama terinstitusionalisasi dan teknokratis.

***

Pola gerakan baru politik rakyat itu muncul di Bekasi. Tujuannya jelas: ambil alih politik praktis! Rebut kekuasaan dengan cara demokratis! Mungkin gerakan yang mengusung Obon Tabroni-Bambang Sumaryono–tokoh buruh di Bekasi–ini tak akan lama lagi mendapatkan label sebagai “gerakan sosial lama”, lantaran ia ditopang oleh gerakan buruh. Tapi bagaimanapun juga, pola gerakan politik ini tidak mainstream sepanjang sejarah demokrasi lokal di Indonesia.

Dimana ada pasangan calon—yang sebagaimana pengusungnya—turun ke desa-desa, dari rumah ke rumah, dari pertemuan ke pertemuan untuk mengumpulkan dukungan KTP selain gerakan ini?  Dimana ada tim sukses yang dengan membayai diri mereka sendiri bahu membahu memenangkan Paslon yang ia dukung selain gerakan ini? Dimana ada pedagang kaki lima, pedagang asongan, pedagang keliling yang secara sukarela mengkampanyekan Paslon yang ia dukung selain gerakan politik ini?

Gerakan politik rakyat ini juga disokong oleh elemen organisasi masyarakat sipil yang selama ini melakukan berbagai gerakan advokasi, sehingga karena itu, suara dan dukungan juga datang dari mereka yang selama ini mendapatkan pendampingan.

”Independen”—begitu film dokumenter yang merekam gerakan politik rakyat tersebut dijudulkan (dapat dilihat di sini)—menggambarkan betapa kuatnya hasrat untuk mengubah keadaan: dari keputusasaan menuju harapan; dari kesengsaraan menuju kesejahteraan; dari penguasaan elit ke penguasaan rakyat; dari oligarki partai politik ke demokrasi rakyat; dari aktivitas politik yang dikendalikan oleh uang ke aktivitas politik yang dikendalikan oleh kesadaran dan kesukarelaan.

Gerakan politik rakyat ini memang kalah bertarung dengan kekuatan politik yang dikendalikan oleh kekuatan modal-elit dan hanya mendapatkan 20% dari total suara dalam Pilkada Bekasi 2017. Tapi yang pasti, titik akhir dari perjuangan tersebut bukanlah kemenangan. Yang paling utama adalah semakin masifnya kesadaran dan kepercayaan politik rakyat Bekasi.

Kita semua tahu, bahwa kejahatan kekuasaan selalu muncul karena institusi publik dikuasai oleh elit, oligark, dan dinasti yang tak peduli pada rakyat. Sudah cukup gamblang bahwa selama bertahun-tahun gerakan advokasi juga tak mampu menekan penyelenggara untuk menindak berbagai pelanggaran Pemilu. Bahkan di puluhan daerah, Pilkada 2017 dipenuhi dengan dinasti dan oligarki. Maka, sulit membayangkan adanya perubahan berarti jika gerakan sipil selalu mengambil posisi sebagai pengontrol atau pemadam kebakaran.

Para pegusung Obon-Bambang tahu, bahwa yang rakyat perlukan bukan sekedar  tahu bahwa ”di sini ada kejahatan kekuasaan” atau ”di sini ada kebijakan yang tidak beres”. Melainkan bagaimana rakyat memiliki kapasitas politik untuk memeranginya, sehingga mereka bisa berkata: “di sini kami berdaulat dan kejahatan kekuasaan akan lenyap”.

Meski akhirnya kalah dengan politik uang. Dengan perjuangan tidak mengenal kata “menyerah”, paling tidak, masih ada harapan di tahun-tahun mendatang bahwa politik praktis kembali dalam kendali rakyat. Nasib suatu kaum tidak akan berubah jika mereka tidak berusaha merubahnya sendiri.

***

Dari perjuangan gerakan politik rakyat pengusung Obon-Bambang tersebut kita tahu, bahwa musuh yang memiliki kekuatan yang luar biasa harus dilawan dengan cara luar biasa pula. Maka, strategi rakyat berpolitik praktis bisa dikatakan merupakan jalan elegan. Pernyataan Che Guevara di awal tulisan ini memang dalam konteks perang gerilya untuk revolusi. Tapi pernyataan itu juga bermakna bahwa selama masih terbuka peluang perebutan kekuasaan dengan jalan demokratis, mustinya gerakan rakyat mampu dan berani berkontestasi dalam Pemilu. Kemenangan dan kekalahannya sekaligus akan menunjukkan, sejauh mana aktivisme yang selama ini mengatasnamakan gerakan rakyat adalah benar-benar gerakan rakyat.

Manusia sesungguhya memiliki dua potensi dalam dirinya: kepedulian dan apatisme dalam melihat penderitaan; pesimis dan optimis dalam harapan, serta baik dan buruk dalam perilaku. Salah satu diantara keduanya akan dominan tergantung pilihan diri sendiri. Sayangnya, dalam politik kita tak bisa menggantungkan semua pilihan itu pada individu. Politik adalah urusan publik, urusan orang banyak, dan karena itu pilihan-pilihan tersebut akan terkonsolidasi tergantung keyakinan—yang seringkali datangnya—dari luar yang dibangun setahap demi setahap, dari mulut ke mulut, mata ke mata, dan hati ke hati. Hanya dengan begini, gerakan politik rakyat akan terbangun.

Terus berjuang, gerakan politik rakyat Bekasi!

 

*In’amul Mushoffa

 

 

 

 

 

0 Shares

Tinggalkan Balasan