Kapitalisme dari Bawah

Hatib Abdul Kadir

Dosen Antropologi Universitas Brawijaya. Menyelesaikan studi doktoral di California University, Santa Cruz

 

Buku etnografi ini menceritakan bagaimana kapitalisme tumbuh dari bawah. Pada tahun 1990-an ketika harga kakao naik di pasaran dunia, masyarakat Laudje di dataran tinggi Sulawesi Tengah memprivatisasi tanah mereka dengan antusias. Kepemilikan publik (the common) mengalami erosi dan perbedaan antar kelas di pedesaan mulai tumbuh.

Robert Brenner, peneliti sejarah dan teori sosial, melihat bahwa awal mula munculnya kapitalisme di pedesaan terbagi dua. Pertama, masyarakat merespon pasar yakni sebagai pilihan dan kesempatan (market as oppottunity). Kedua, masyarakat menghadapi pasar sebagai pemaksaan (market as an compulsion). Dengan mempercayai pandangan Brenner bahwa pasar adalah sebuah kesempatan (market as opportunity), Tania Li mengajukan konsep teori tentang kapitalisme yang muncul dari bawah (capitalism from below).

Masyarakat Laudje sudah akrab dengan pertukaran pasar. Mereka tidak bingung dengan konsep uang dan sistem kerja untuk tanaman komersial. Orang-orang Laudje telah menjual tembakau mereka ke pasaran Belanda sejak abad 19. Mereka memilih bekerja dan terlibat dengan pasar sebagai kesempatan untuk membuat hidup lebih baik. Namun ceritanya tentu tidak berakhir indah.

Setiap orang Laudje punya akses terhadap tanah nenek moyang mereka. Ketika harga kakao melonjak di tahun 1990an, mereka melakukan klaim dan pembatasan terhadap tanah masing-masing. Tania Li menyebutnya “enclosure from below“. Setiap orang membuat plot tanahnya sendiri dan memprivatisasinya. Orang Laudje melakukan enclosure demi kerabat dan keturunannya sendiri. Dengan demikian, Li beranggapan rejim kepemilikan properti pribadi justru muncul dari masyarakat sendiri.

Orang Laudje juga sudah paham soal penghargaan terhadap tenaga kerja “My labor is my reward“, demikian ungkap Tania Li. Siapa yang menanam berhak dapat tanah. Anak remaja usia belasan sudah menanam pohon kakao didasarkan bahwa tanah nenek moyangnya akan menjadi miliknya jika ia buka dan garap sendiri. Semangat individualisme ini didukung oleh keseluruhan jaringan resiprokal dengan keluarga. Mereka saling membantu bertukar tenaga ketika membuka plot tanah untuk ditanami kakao. Tiap-tiap individu saling berbagi tenaga, saling bergantian mengggarap plot tanah. Dengan demikian, resiprositas seimbang atau resiprositas general, dalam istilah antropologinya, berjalan bersama dengan semangat ekonomi individualisme.

Tidak Semuanya Berakhir Indah

Privatisasi mengakibatkan apa yang disebut dalam buku ini sebagai “Lands End“, setiap orang mengubah tanahnya ke tanaman kakao hingga tidak ada lagi sisa untuk menanam jagung, umbi-umbian dan tanaman pangan lainnya, dan tidak ada lagi hutan tersisa.

Sebagai respon dari melonjaknya harga kakao, banyak petani yang menjual tanahnya yang juga melompat tinggi. Petani yang menjual tanahnya akhirnya justru menjadi miskin dan, sebaliknya, mereka yang mampu memperluas kepemilikan tanah semakin kaya. Sejak tahun 1990an, perbedaan kelas di pedesaan makin kentara. Uniknya, diferensiasi kelas di pedesaan bukan sebuah hal besar yang harus didramatisir. Mereka yang menjual tanahnya dan menjadi miskin meminta pekerjaan pada yang punya tanah lebih. Disinilah pada akhirnya muncul sistem tenaga kerja upahan (wage labor) dalam masyarakat pedesaan.

Lands end adalah bencana karena petani menyerahkan otonomi pangan mereka (food outonomy) seperti jagung, umbia-umbian, dll ke dalam ketergantungan terhadap komoditas global yang harganya mereka tidak dapat kontrol. Ini adalah keputusan yang sangat beresiko. Hilangnya otonomi pangan  membuat masyarakat Laudje rentan (vulnerable), hal ini terlihat pada rendahnya ketahanan pangan (food security).

Tania Li melakukan riset di Laudje dengan mengunjungi daerah ini berkali-kali. Asumsi dia, masyarakat yang kehilangan tanah pada akhirnya akan menjadi buruh migran  yang keluar dari kampungnya, seperti laporan riset masyarakat pedesaan pada umumnya. Namun yang ditemui Tania Li justru berbeda.

Orang-orang Laudje mengalami apa yang disebut Jan Breman sebagai “rural slum land“. Masyarakat tinggal terpaku di pedesaan dan tidak mempunyai jalan keluar. Mereka tidak mempunyai keahlian untuk pergi keluar kampung dan terus menggantungkan hidupnya dari menjadi buruh upahan pada kebun-kebun kakao milik tetangga atau kerabatnya yang semakin sukses. Para pemilik lahan-lahan kakao ini berjumlah sedikit namun menguasai tanah lebih banyak.

Pesan yang ingin disampaikan buku ini bahwa harapan akan kemakmuran dengan mengandalkan penjualan komoditas tanaman global pada awalnya terlihat seperti kesempatan bagus, namun hanya sedikit yang sukses dan lebih banyak yang gagal.

Pesan terpenting dari buku ini adalah kita tidak bisa berharap pada kapitalisme itu sendiri yang dijanjikan menjadi mesin penyejahtera masyarakat. Roda kapitalisme global secara anarkis berjalan di luar kendali petani. Namun roda itu telah menghancurkan resiprositas sosial dan memunculkan kerentanan baru pada pangan.

Membaca buku ini membuatmu berhenti tepuk tangan, karena apa yang terlihat seperti harapan baru, justru menjadi bumerang yang menghantam balik orang-orang pedesaan yang mempercayainya.***

 

Data Buku

Paperback: 240 pages
Publisher: Duke University Press Books (2014)
Language: English


Artikel ini sebelumnya tayang di blog pribadi penulis, econanthro.wordpress.com. Dimuat di sini dengan izin penulis untuk tujuan pendidikan.

Gambar utama: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Die_Heuernte.jpg

449 Shares

Tinggalkan Balasan