Mitos Kapitalisme yang Layak

Ferderikus Ama Bili

Anggota Kristen Hijau Indonesia

 

Seorang teman memberikan saya buku ini, katanya bagus untuk dibaca. Buku ini ditulis sebagai upaya membangun sebuah sistem ekonomi yang para penulisnya sebut sebagai kapitalisme yang layak. Namun apakah kapitalisme itu? Apakah dia mampu digeserkan menjadi lebih layak?

Keliru menerjemahkan kapitalisme, membuat kita kebingungan pada apa yang sedang kita lawan, bagaimana jalan keluar terbaiknya. Tulisan ini membedah buku tersebut dengan menggunakan marxisme sebagai metode. Juga ingin memberikan informasi awal mungkin tidaknya kapitalisme yang layak dibangun, terutama di negara-negara berkembang.

Persoalan membaca kenyataan dan problem awal

Kesalahan terbesar yang berakar pada kepongahan dan keserakahan, dua sifat yang dilahirkan oleh pasar yang diregulasi, hampir hampir meruntuhkan seluruh sistem (hal 1)

Kapitalisme bukanlah sistem yang berdiri pada moralitas. Lantas, pongah dan serakah seperti apa yang dimaksud penulis buku ini dalam frase di atas?  Seorang kapitalis tidak mengambil nilai lebih (surplus value) karena dia jahat, namun hanya dengan begitu begitu dia bisa tetap hidup sebagai pemlik alat produksi, hanya dengan begitu sistem yang menguntungkan dia tetap berjalan. Jika dia mengambil surplus value dikarenakan dia tidak bermoral, maka khotbahi saja mereka sampai tobat. Setelah tobat dan moralnya baik, apakah dia sudah bukan kapitalis lagi? Mereka tetap kapitalis selama menguasa alat produksi, mempekerjakan para buruh, menjual hasilnya ke pasar untuk akumulasi. Kapitalisme itu jahat karena dia bermasalah, bukan kapitalisme itu bermasalah karena ia jahat.

Buku ini mencoba berontak pada bentuk-bentuk yang nampak dari kapitalisme, tetapi sepakat dengan conditio sine qua non (syarat kemungkinan) dari adanya kapitalisme. Alih-alih membangun sebuah kemungkinan yang lebih masuk akal, buku ini justru secara jelas dan terang benderang ingin membuat kapitalisme-imperialisme terus berjaya dan bertambah subur sebagaimana diakui oleh Tim penulis dalam kata pengantarnya:

Dalam melakukan hal tersebut (menyusun buku ini) kami harus menyampaikan temuan-temuan yang mengganggu dan mengirimkan alarm bahaya kepada pihak-pihak yang memiliki sumber daya untuk menyelamatkan sistem.

Dengan mengutip Roubini dan Mihm (2010:6) “Sangatlah penting untuk meninggalkan ideologi di depan “pintu” agar dapat melihat suatu permasalahan dengan lebih tenang.” (hal 2)

Para penulis ingin membawa pembacanya pada pandangan bahwa ini semua bukan soal ideologi. Tinggalkan semua kritik atas ideologi mari kita mati dalam kapitalisme. Para penulis mencoba menghalangi pembaca agar tidak melakukan kritik pada ideologi yang menopang kapitalisme, yaitu liberalisme. Padahal, memperbaiki kapitalisme dengan tidak membongkar ideologi yang menopangnya sama saja dengan ingin agar sistem ini terus menghisap antar manusia (exploitation de l’homme par l’homme) dan antar negara (exploitation de nation par nation). Setiap manusia hidup dengan berideologi.  Jika seseorang mengatakan dapat meninggalkan ideologi agar melihat masalah dengan tenang, maka mungkin saja dia sedang dipengaruhi oleh sebuah ideologi yang lebh besar dan sulit ditinggilkan dalam keadaan sadar mapun tidak sadar.

Distribusi kekayaan di negara-negara (seperti Eropa daratan, Jepang, dan negara-negara berkembang) ini juga sangat egaliter. (hal 13)

Penulis buku ini beberapa kali memuja dan memberikan contoh negara-negara kesejahteraan atau walfare state. Padahal, negara-negara itu diuntungkan dalam skema kapitalisme global (Global Monopoly Capital) sebagai kapitalis pusat karena  mengambil sumber daya  dengan menanamkan modalnya di negara-negara kapitalis periferi (pinggiran). Adalah mitos jika negara periferi mencontoh negara-negara yang sejahtera yang telah menghisap mereka. Sangat tidak mungkin membangun negara kesejahteraan pada negara-negara selatan.

Salah satu faktor penting yang berkontribusi pada ketidakseimbangan global adalah bangkitnya Cina (hal 64)

Penulis seolah-olah ingin mengatakan bahwa negara imperialis selama ini telah membangun sebuah keseimbangan global. Jadi, sebaiknya diterima saja. Jika masih ada sedikit kekurangan, maka maklum saja roker juga manusia, begitu pula imperialis. Sabar saja, ini ujian! Dengan menyinggung kebangkitan China, seolah tidak boleh ada negara berhaluan marxis yang boleh mengganggu imperialis.

Padahal, dengan melihat realitas dengan terang benderang, imperialisme harus diganggu.  Sebab dalam sistem akumulasi sekarang ini, banyak produksi dialihkan ke negara-negara Selatan. Maka, imperialisme bisa diruntuhkan dengan memotong rantai pasoknya. Oleh karenanya, mendukung China menjadi sesuatu yang masuk akal bagi rakyat pekerja hari ini.

Dalam sebuah artikelnya tentang China, Samir Amin seorang ekonom marxis asal mesir pernah berkata “membangun kapitalisme negara (negara berdaulat atas alat produksi) seperti yang dilakukan China adalah fase awal dalam komitmen potensial dari masyarakat mana pun untuk membebaskan diri dari kapitalisme historis, dalam perjalanan panjang menuju sosialisme1. Negara-negara kapitalis maju tidak akan mungkin masuk ke jalur sosialis yang memang bukan agenda mereka. Negara kapitalis tidak dibangun untuk revolusi kelas pekerja.

Kaynesianisme dan kemustahilannya

Jika dilihat dengan seksama para penulis buku ini dipengaruhi oleh John Maynard Kaynes. Secara sederhana, metode Keynesian adalah intervensi  moneter pemerintah dalam suplai uang, misalnya dengan tingkat bunga rendah, mencetak uang untuk stimulus, dan mendorong ekspansi kredit. Ini memang sering dijadikan rujukan saat krisis kapitalisme, yang sebenarnya inheren di dalam kapitalisme itu sendiri.

Karya keynes yang paling terkenal dan berpengaruh adalah bukunya The General Theory of Employment, Interest and Money yang diterbitkan pada 1936 di tengah-tengah depresi hebat ekonomi. Keynes berusaha memberikan solusi untuk masalah kapitalisme melalui apa yang ia sebut sebagai “euthanasia of the rentier” atau penurunan substansial dalam pembagian pendapatan dan sosialisasi investasi yang agak komprehensif.Dengan mempertimbangkan teori keynesianisme ini para ekonom arus utama sampai pada kesimpulan bahwa ekonomi kapitalis dapat dikelola secara efektif dengan penyempurnaan kebijakan moneter dan fiskal, dan menekankan (kebijakan) sebelumnya. Ini karena ekonomi secara implisit diasumsikan bertindak sesuai dengan “Hukum Say”, bergerak secara alami menuju keseimbangan kerja penuh.

Keynes sebenarnya dapat membantu kita memahami kekurangan kapitalisme, tetapi dia tidak dapat membawa kita terlalu jauh untuk menghadapi tantangan abad kedua puluh satu. Saran praktisnya pada akhirnya hanya terbatas untuk mencoba memperbaiki apa yang disebutnya masalah “magneto” (atau alternator),3 Dia menghindari langsung menangani kontradiksi yang lebih besar atau “kesalahan luar biasa” dari kapitalisme yang dia lihat. Dia tidak lebh dari seorang pembeli nilai lebih dalam bentuk kapitalis. Untuk ini kita tidak perlu Keynes (atau Schumpeter), tetapi sosok Marx yang jauh lebih revolusioner (dalam hal ekonomis, sosial, dan ekologis). Keynes merepresentasikan pembela ilmiah terakhir yang hebat dari “kapitalisme rasional” yang kini terbukti mustahil.

 

Judul buku : Kapitalisme yang layak
Penulis : Sebastian Dullien, Hansjörg Herr dan Christian Kellermann
Tahun terbit : 2016
Penerbit : Friedrich-Ebert-Stiftung Kantor Perwakilan Indonesia

 


Gambar: https: https://www.newframe.com/burning-world-capitalist-winter/

291 Shares

Tinggalkan Balasan