Revolusi Ekologis: Menyelamatkan Bumi dari Kehancuran Akibat Kapitalisme

Oleh:
Muhammad Afif Nurwan*

Di tengah situasi krisis lingkungan yang semakin parah dan berkepanjangan, pihak-pihak yang merasa berwenang maupun yang mengklaim peduli lingkungan menjalankan solusi di atas asumsi dasar bahwa krisis ini bisa diatasi dengan melanjutkan kapitalisme. Mereka menyeru untuk merubah gaya hidup, mengurangi konsumsi energi rumahan, penghijauan, kampanye serba ‘hijau’, sampai membangun industri dengan label ‘green’ macam ‘green mining’. Akankah upaya itu akan menyelamatkan planet kita dari ancaman kehancuran ekologis? Buku yang ditulis Fred Magdoff dan Jhon Bellamy Foster ini hendak menjawab pertanyaan itu.

Buku ini merupakan pengembangan dari artikel di Monthly Review pada 2010. Sorotan pembaca terhadap artikel What Every Environmentalist Need to Know About Capitalism ini begitu besar. Melalui buku ini, pembaca akan dibawa ke dalam penelusuran bagaimana kapitalisme menghancurkan planet ini dan, yang terpenting, bagaimana cara melawannya. Foster adalah profesor sosiologi di Universitas Oregon, editor Monthly Review yang telah menulis banyak artikel dan buku ekonomi politik kapitalisme, krisis ekologi, dan marxisme. Magdoff adalah direktur Monthly Review sekaligus profesor ilmu tanah, tumbuhan, dan pangan di Universitas Vermont.

Krisis Ekologi Skala Planet

Di jaman kuno, sejarah peradaban besar di dunia seperti Mesopotamia, Maya, Yunani, runtuh diakibatkan oleh kerusakan ekologi seperti penggundulan hutan, erosi tanah, dan salinisasi tanah irigasi. Dalam Timaeus dan Critias, Plato menyebut bahwa tanah di sekitar Athena saat itu hanyalah sisa-sisa yang gersang, diibaratkan seperti kerangka yang habis daging dan kulitnya oleh suatu penyakit. Sebelum ‘kebengisan’ eksploitasi yang dilakukan oleh bangsa-bangsa besar tersebut, wilayah ini sebelumnya sangat terjaga kelestariannya. Tanahnya sangat subur. Banyak menumbuhkan tanaman sehingga menjadi hutan. Jika bagian dari tanaman itu digunakan untuk membangun bangunan, niscaya bangunan tersebut masih kokoh berdiri hingga saat ini.

Pembeda era modern dengan peradaban kuno adalah kita (era modern) memiliki teknologi yang sanggup menciptakan kerusakan yang lebih besar dan lebih cepat. Kita juga memiliki sistem ekonomi yang tak mengenal batas. Dalam beberapa dekade terakhir, hal ini semakin riskan karena terdapat tanda-tanda perubahan iklim di planet kita (bumi) ini (hal. 8):

  1. Lelehnya samudra Arktik. Menjadi lapisan es yang tertipis sejak periode akhir 2007, 2008, dan 2010.
  2. Kenaikan permukaan air laut. Sejak 1993, kenaikan per tahunnya sebesar 3mm per tahun. Kenaikan 1 atau 2 meter saja sangat membahayakan keberadaan negara-negara daratan rendah seperti Bangladesh, Vietnam, dan negara-negara kepulauan.
  3. Peluruhan glasier (gunung es). Bagi negara-negara yang dekat dengan wilayah es (Himalaya & Peru), ini menjadi salah satu pasokan air yang penting.
  4. Pemanasan samudera. Berkurangnya fitoplankton: rantai makanan paling rendah –menurunnya produktivitas ikan di lautan.
  5. Dampaknya sangat terasa di Afrika, Australia, dimana hujan baru datang setelah selama 10 tahun. Itu pun dengan intensitas hujan yang sangat tinggi.
  6. Suhu ekstrim. Menggangu siklus tumbuh/semi pada tanaman –menyebabkan hewan herbivora kekurangan makanan & mengganggu fungsi ekosistem.
  7. Meningginya kadar CO2 –matinya tumbuhan (khususnya pertanian)—gagal panen. Kekurangan pangan merupakan dampak lain.
  8. Krisis air tawar. Dengan banyaknya konsumsi air oleh kegiatan industri (apalagi industri pertambangan guna eksraksi bahan tambang).
  9. Perubahan pemanfaatan lahan untuk aktivitas produksi. Hutan konservasi—hutan produksi, lahan rakyat – aktivitas produksi/infrastruktur.
  10. Sampah sisa produksi/konsumsi manusia. Berupa plastik, produk industri petrokimia, kaca, membentuk pulau sampah di lautan – cahaya matahari mengurai ‘pulau’ itu menjadi partikel kecil – meracuni ekosistem lautan.

Busines As Usual: Jalan Menuju Kehancuran

Meski demikian, tetanda perubahan iklim tak otomatis mendorong orang menghentikan kapitalisme. Kapitalisme berjalan sebagaimana adanya. Malah, dalam tiga dekade terakhir, negara-negara didorong untuk menerapkan busines as usual–demi pencapaian semu seperti pertumbuhan, kemajuan, dll.

Melanjutkan busines as usual adalah jalan menuju bencana global. Sistem ekonomi kapitalisme selalu membutuhkan pertambahan populasi manusia baik sebagai cadangan pekerja murahnya atau sebagai konsumen. Kapitalisme senantiasa mendukung teknologi tertentu guna memperbesar laba, akumulasi, dan pertumbuhan ekonomi. Jika setiap orang di dunia ini (khususnya di negara berkembang) berusaha mencapai standar hidup negara kapitalis kaya, negara kapitalis kaya terus mempertinggi kekayaan per kapitanya yang sebenarnya pun sudah sangat tinggi. Di titik ini, jika negara-negara berlomba-lomba mengejar pertumbuhan itu, para penulis buku “The Limits of Growth” (1972) punya kesimpulan-kesimpulan:

  1. Jika tren populasi dunia, industrialisasi, polusi, produksi pangan, dan penipisan sumber daya tetap tak berubah, maka batas pertumbuhan planet ini akan dicapai dalam 100 tahun ke depan.
  2. Mengubah tren pertumbuhan pada poin 1 adalah sangat mungkin. Menetapkan kondisi stabilitas ekologi dan ekonomi dengan menata ulang keseimbangan global.
  3. Semakin besar usaha manusia dalam menjalankan poin 2 ketimbang poin 1, maka semakin besar peluang untuk berhasil (hal. 26).

Sangat banyak kaum miskin hidup dalam kondisi rawan, dan merekalah sebagai golongan pertama yang menderita jika terjadi bencana atau kemerosotan lingkungan. Terdapat >3 milyar orang hidup dalam kemiskinan dan memerlukan akses terhadap kebutuhan eksistensi manusia paling dasar: rumah layak, persediaan pangan, air bersih, dan perawatan kesehatan.

Ketimpangan antara kelompok super kaya dengan masyarakat miskin merupakan kejadian riil di tingkat global, bukan sekadar regional. Ketimpangan ini terjadi akibat persoalan kelas dan bentuk sosial lainnya yang dari kedua kelas tersebut tidak akan ditemukan komprominya. Oleh karena itu, keadaan ekonomi yang adil dan merata tidak hanya bisa dicapai dengan melawan kelas penguasa, namun juga melawan logika kapital itu sendiri.

Imperatif Pertumbuhan dalam Kapitalisme

Daya dorong kapitalisme adalah kompetisi menumpuk laba untuk pembentukan kapital baru demi menciptakan keuntungan dan akumulasi.

M’-C-M” M’ (M+∆M)

Keterangan:
M: Money
C: Comodity

Untuk terus hidup, M’ harus bertambah menjadi M’’, M’’’, M’’’’ tanpa batasan. Tapi kontradiksinya, akumulasi kekayaan (M’) tidak baik bagi kesehatan kapitalistik jika ia tak bisa disirkulasikan dengan baik. Langkah yang tepat adalah menggunakan M’ tersebut untuk mengakuisisi perusahaan atau usaha lain. Jika dirasa perlu, kapitalis menghancurkan kompetitor perusahaan lain agar perusahaan sendiri menjadi semakin besar dan tak tertandingi.

Kompetisi itulah yang mendorong para pengusaha/perusahaan untuk berlomba-lomba dalam berproduksi dan berakumulasi sehingga lahirlah monopoli. Bentuk persaingan lain adalah melalui persaingan harga, pelayanan, atau klaim benefit lain. Bentuk persaingan macam ini turut menyumbang gaya hidup yang kian menyampah. Indikasinya ada pada skala konsumsi: makanan, minuman, wisata, rumah, dan lain-lain.

Lingkungan Hidup dan Kapitalisme

Karena tingginya pertumbuhan segaris dengan kehancuran ekologis, daya rusak ekologis kapitalisme justru akan turun pada saat pertumbuhan ekonomi yang melemah, krisis, bahkan resesi ekonomi. Dalam situasi krisis, pencemaran akibat pembakaran batu bara sebagai salah satu sumber energi menjadi berkurang, dan lebih sedikit mineral yang diekstraksi. Namun, krisis dapat menciptakan penderitaan besar bagi rakyat (khususnya rakyat pekerja). Banyak pekerja yang dipotong jam kerjanya, gajinya, sampai di-PHK sehingga menyulitkan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarganya.

Saat pasar dalam negeri jenuh, langkah yang paling tepat adalah melakukan ekspansi global. Langkah ini dapat mencapai pertumbuhan dua digit yang berkelanjutan. Seperti yang dilakukan WalMart di India, dan Carrefour di Cina dan Brazil. Berhubung membutuhkan luas lahan yang tidak sempit, maka upaya land grabbing pun seringkali dilakukan. Dengan memanfaatkan modal swasta/pemerintahan, mereka berlomba-lomba menjelajahi dunia untuk mencari sumber daya dan kesempatan, mengeksploitasi buruh (murah), memanfaatkan longgarnya aturan hidup, dan beban pajak yang ringan apalagi di negara-negara berkembang.

Versi Bahasa Indonesia terbitan Marjin Kiri

Seringkali, negara juga ikut berperan dalam memberikan bantuan pada proses ekspansi perusahaan-perusahaan besar mereka. Pemberian bantuan itu bermacam-macam, mulai dari dana, politik hingga militer. Seperti yang dilakukan oleh Inggris yang memaksa Cina untuk menandatangani Traktat Nanking pada 1842 untuk menghapus biaya impor dari Inggris dan sekutu yang mahal. Aksi imperialis AS atas penggulingan pemerintahan Iran pada 1953, yang bertujuan agar perusahaan minyak AS dapat mengontrol secara signifikan perminyakan Iran. Tak ada pihak yang melindungi kepentingan umum. Bahkan, negara pun tak kuasa membantu mengelola SDA sampai bencana itu terjadi, karena sistem telah dikendalikan oleh kepentingan privat dan akumulasi. Seperti yang sudah dijelaskan oleh Engels pada 1880, “Apa pedulinya tuan-tuan kebun Spanyol di Kuba yang membakar hutan di lereng gunung untuk mendapatkan abu yang cukup guna memupuk satu generasi tanaman kopi dengan harga yang sangat tinggi. Apa pedulinya mereka jika hujan turun dengan sangat lebat di daerah tropis, dimana akan membasuh lapisan tanah teratas yang tak terlindungi, sehingga hanya menyisakan batuan yang gersang.”

Kaum penguasa memiliki kontrol terhadap media. Mereka dapat menentukan sumber informasi mana yang akan diberikan kepada hampir seluruh masyarakat. Maka, berkembanglah sebuah budaya di lingkungan politik bahwa apa yang dilakukan dengan baik bagi bisnis kapitalis berarti baik pula bagi negara. Akibatnya, para pemimpin politik pun kian melihat diri mereka sebagai wirausahawan politik atau mitra dari wirausahawan. Mereka banyak membuat peraturan/keputusan yang meringankan dampak aturan hukum dan regulasi yang ‘keras’, dan mensahkan UU yang berpihak pada pebisnis besar, sehingga mereka dapat terpilih kembali.

Bisakah Kapitalisme Ramah lingkungan?

Belakangan ini, moralitas ‘hijau’ menjadi gaya hidup yang menjadi tren, meluas, dan sangat menguntungkan. Lebih parah, tren ‘hijau’ ini menyebabkan kenaikan tiada henti akan ‘pasar hijau’ dan ‘konsumen hijau’.

Melalui peran media dan iklan, konsumen merasa bahwa apa yang dibelinya tidak sekedar mengonsumsi barang konsumsi biasa, namun terdapat perasaan ‘mulia’ dalam membeli produk berlabel hijau tersebut. Menurut pemerhati lingkungan, Heather Rogers, yang sebenarnya terjadi adalah krisis lingkungan yang diutak-atik dengan sedemikian rupa agar kelihatannya bisa ditangani dengan cara yang oleh struktur ekonomi-politik saat ini dipandang paling tidak mengancam status quo.

Mau diberi agenda sehijau apapun judulnya, kapitalisme tetaplah kapitalisme. Dia akan senantiasa memfasilitasi akumulasi, ekspansi, dan tak kan pernah bisa menjadi hijau karena keharusan untuk selalu tumbuh dan menjual lebih banyak.

Lalu, Apa yang Harus Dilakukan?

Dalam buku ini, juga dibahas solusi jangka panjang dan pendek; perlunya perubahan gaya hidup masyarakat, perubahan sistem ekonomi, kegiatan ekonomi yang ditujukan bukan pada akumulasi kekayaan, tapi kesejahteraan seluruh rakyat. Buku ini membongkar kenaifan bahwa persoalan lingkungan hidup dapat diatasi tanpa perlu mengubah perekonomian kapital. Membaca buku ini, kita akan disadarkan bahwa merubah gaya hidup seperti mengurangi konsumsi energi dan sampah plastik, penghijauan, bersih-bersih pantai memang bagus. Tapi, itu semua tidak cukup! Diperlukan untuk memutus akarnya, mengubah modus produksi kapitalis yang sudah mengglobal. Inilah revolusi ekologis keberlanjutan peradaban manusia dan ekologi.

Sebagai penutup, saya kutipkan bagian akhir buku ini:

“Kita perlu mengakui bahwa sebagai manusia kita merupakan bagian dari alam, bukan terpisah darinya. Eksploitasi masyarakat kapitalis atas lingkungan berakar pada eksploitasi atas kaum pekerja. Pembentukan hidup yang menyatu dengan alam bersifat hakiki dalam menempa komunitas manusia yang egaliter. Pembatasan hubungan manusia dengan alam, tulis Marx, menentukan pembatasan hubungan mereka satu sama lain, dan pembatasan hubungan mereka satu sama lain menentukan pembatasan hubungan mereka dengan alam. Revolusi ekologis berarti memutus lingkaran setan eksploitasi manusia sekaligus atas alam.” (hal. 169-170)

Di titik inilah, cita-cita ekologis harus berpaut dengan cita-cita sosialisme dalam menentang kehancuran lingkungan dan menentang kapitalisme! Hal ini bukan lagi utopis. Sebab, setiap makhluk hidup adalah ingin bertahan hidup dan, saat ini, dunia bergantung pada kelas pekerja yang secara material bekerja menghasilkan barang-barang kebutuhan hidup. ***

Data Buku

Judul : Lingkungan Hidup dan Kapitalisme
Judul asli : What Every Environmentalist Needs to Know About Capitalism and the Environment
Penulis : Fredd Magdoff & John Bellamy Foster
Penerjemah : Pius Ginting
Penerbit : Marjin Kiri, Tangerang Selatan
Tahun : 2018

*Penulis adalah Alumni Sekolah Ideologi & Gerakan Sosial IV Intrans Institute

Sumber gambar: http://links.org.au/taxonomy/term/138?page=1

Tinggalkan Balasan